RSS

LAPORAN DISKUSI “REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) ATAU PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK”

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Dewasa ini yang masih menjadi isu panas dalam kualitas pendidikan adalah prestasi siswa dalam bidang ilmu tertentu. Menyadari hal ini pemerintah bersama-sama dengan para ahli di bidang pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya reformasi pendidikan yang telah dibuat oleh banyak pemerintah, termasuk melalui seminar, lokakarya dan materi pelatihan dalam hal mata pelajaran dan metode pembelajaran untuk bidang studi tertentu seperti Sains, Matematika dan lain-lain. Namun belum menampakkan hasil memuaskan, baik dari proses pembelajarannya maupun dari hasil prestasi siswanya.

Dari beberapa mata pelajaran yang disajikan disekolah, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang perlu dilatih dalam system penalarannya. Melalui pengajaran matematika diharapkan dapat meningkatkan kapasitas keterampilan dan mengembangkan aplikasi. Selain itu matematika adalah cara berfikir dalam menentukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan matematika adalah adalah metode berfikir logis sistematis, dan konsisten.

Namun matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sebagian siswa sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Apalagi dengan peserta didik yang kerja otak kanan lebih dominan dalam aktifitas kesehariannya. Dengan asumsi seperti ini, maka pelajaran matematika akan menjadi sebuah penghambat dalam proses pembelajaran bagi sebagian siswa tersebut. Sehingga dalam pembelajaran perlu memperhatikan kondisi yang perlu dan dapat mendorong atau memotivasi peserta didik dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Namun demikian, dengan berbagai model pembelajaran yang ada memungkinkan guru untuk menyampaikan materi matematika secara menarik dan menyenangkan. Dalam kondisi peserta didik yang fun atau bisa dengan tema “belajar matematika dengan menyenangkan” maka perserta didik dapat mengikuti dengan fun juga, maka mereka tidak merasa kejenuhan dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang ada adalah Pembelajaran matematika realistic atau yang lebih dikenal dengan RME (Realistic Mathematics Education).

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah RME itu?

2.      Bagaimanakah langkah-langkah RME?

3.      Apa sajakah kelebihan dan kelemahan RME?

4.      Bagaimana penerapannya dalam pembelajaran matematika?

C.     Tujuan

Dari Uraian diatas didapat:

1.      Tujuan umum

a.       Dapat mengetahui apa itu RME.

b.      Dapat mengetahui bagaimanakah langkah-langkah RME.

c.       Dapat mengetahui apa sajakan kelebihan dan kelemahan RME.

d.      Dapat mengetahui bagaimana penerapannya dalam pembelajaran matematika.

2.      Tujuan khusus

Dapat mengaplikasikan RME dalam proses pembelajaran.

D.    Manfaat

1.      Manfaat teoritis

Secara umum dari ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pembelajaran matematika utamanya dalam meningkatkan pemahaman konsep belajar matematika siswa. Secara khusus review ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada strategi pembelajaran matematika.

2.      Manfaat praktis

  • Bagi siswa

Proses pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap  konsep matematika dengan baik.

  • Bagi guru

Memberikan masukan kepada guru, khususnya guru matematika, bahwa dalam pembelajaran matematika dengan pemberian pertanyaan haruslah dapat   merangsang motivasi siswa agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan kreatif.

BAB II
KAJIAN TEORI

A.     Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman.Pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Disisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

C.     Pendekatan Realistik

Pengertian pendekatan realistik menurut Sofyan, (2007: 28) “sebuah pendekatan pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri”.

Menurut Sudarman Benu, (2000: 405) “pendekatan realistik adalah pendekatan yang menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam belajar matematika”.

 

BAB III

PEMBAHASAN

A.     Sejarah dan Pengertian RME

1.      Sejarah RME

Pendidikan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) mulai berkembang karena adanya keinginan meninjau kembali pendidikan matematika di Belanda yang dirasakan kurang bermakna bagi pebelajar. Gerakan ini mula-mula diprakarsai oleh Wijdeveld dan Goffre (1968) melalui proyek Wiskobas. Selanjutnya bentuk RME yang ada sampai sekarang sebagian besar ditentukan oleh pandangan Freudenthal (1977) tentang matematika. Menurut pandangannya matematika harus dikaitkan dengan kenyataan, dekat dengan pengalaman anak dan relevan terhadap masyarakat, dengan tujuan menjadi bagian dari nilai kemanusiaan. Selain memandang matematika sebagai subyek yang ditransfer, Freudenthal menekankan ide matematika sebagai suatu kegiatan kemanusiaan. Pelajaran matematika harus memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk “dibimbing” dan “menemukan kembali” matematika dengan melakukannya. Artinya dalam pendidikan matematika dengan sasaran utama matematika sebagai kegiatan dan bukan sistem tertutup. Jadi fokus pembelajaran matematika harus pada kegiatan bermatematika atau “matematisasi” (Freudental,1968).

Kemudian Treffers (1978, 1987) secara eksplisit merumuskan ide tersebut dalam 2 tipe matematisasi dalam konteks pendidikan, yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Pada matematisasi horizontal siswa diberi perkakas matematika yang dapat menolongnya menyusun dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Matematisasi vertikal di pihak lain merupakan proses reorganisasi dalam sistem matematis, misalnya menemukan hubungan langsung dari keterkaitan antar konsep-konsep dan strategi-strategi dan kemudian menerapkan temuan tersebut. Jadi matematisasi horisontal bertolak dari ranah nyata menuju ranah simbol, sedangkan matematisasi vertikal bergerak dalam ranah simbol. Kedua bentuk matematisasi ini sesungguhnya tidak berbeda maknanya dan sama nilainya (Freudenthal, 1991). Hal ini disebabkan oleh pemaknaan “realistik” yang berasal dari bahasa Belanda “realiseren” yang artinya bukan berhubungan dengan kenyataan, tetapi “membayangkan”. Kegiatan “membayangkan” ini ternyata akan lebih mudah dilakukan apabila bertolak dari dunia nyata, tetapi tidak selamanya harus melalui cara itu.

2.      Pengertian RME

RME  adalah pendekatan pembelajaran yang bertolak dari hal-hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan keterampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini  peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan ‘reasoning-nya’, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain. Secara umum, teori RME terdiri dari  lima karakteristik yaitu:

1)      penggunaan real konteks sebagai titik tolak belajar matematika

2)      penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus.

3)      mengaitkan sesama topik dalam matematika

4)      penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika

5)      menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa.

Namun demikian, hendaknya guru  juga memperhatikan 3 aspek penilaian yang harus dicapai dalam pembelajaran, yaitu aspek pemahaman konsep, aspek penalaran dan komunikasi, serta aspek pemecahan masalah. Dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut maka guru dapat mengembangkan pendekatan atau model dalam proses pembelajaran serta media yang tepat dalam mendukung belajar peserta didik dalam kelas. Dengan suasana yang menyenangkan diharapkan peserta didik tidak jenuh lagi dalam belajar matematika, namun sebaliknya,  diharapkan peserta didik dapat termotivasi untuk belajar dengan menyenangkan.

B.     Langkah-langkah Metode RME

Untuk dapat melaksanakan PMRI kita harus tahu prinsip-prinip yang
digunakan PMRI dan karakteristik PMRI.

a.      Terdapat 5 prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik, yaitu:

1.       Didominasi oleh masalah- masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika.

2.       Perhatian diberikan pada pengembangan model”situasi skema dan simbol”.

3.       Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif.

4.       Interaktif sebagai karakteristik diproses pembelajaran matematika.

5.       Intertwinning (membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.

Gravemeijer (dalam Fitri. 2007: 10) menyebutka tiga prinsip kunci dalam pendekatan realistik, ketiga kunci tersebut adalah:

1.      Penemuan kembali secara terbimbing/ matematika secara progresif(Gunded Reinvention/ Progressive matematizing). Dalam menyeleseikan topik- topik matematika, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama, sebagai koknsep- konsep matematika dikemukakan. Siswa diberikan masalah nyata yang memungkinkan adanya penyeleseian yang berbeda.

2.      Didaktif yang bersifat fenomena(didaktial phenomology) topik matematika yang akan diajarkan diupayakan berasal dari fenomenan sehari-hari.

3.      Model yang dikembangkan sendiri(self developed models) dalam memecahkan ‘contextual problem”, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri. Pengembangan model ini dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan informal dan pengetahuan formal serta konkret dan abstrak.

b.      Karakteristik PMRI

Menurut Grafemeijer (dalam fitri, 2007: 13) ada 5 karakteristik pembelajaran matematika realistik, yaitu sebagai berikut:

1.       Menggunakan masalah kontekstual

Masalah konsektual berfungsi sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah matematika itu muncul(yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari).

2.       Menggunakan model atau jembatan

Perhatian diarahkan kepada pengembangan model, skema, dan simbolisasi dari pada hanya mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan lebih faham dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.

3.       Menggunakan kontribusi siswa

Kontribusi yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi murid sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah metode yang lebih formal. Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan siswa dapat membedakan pengunaan aritmatika sosial terutama pada jual beli. Contohnya: harga baju yang didiskon dengan harga baju yang tidak didiskon.

4.       Interaktivitas
Negosiasi secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal. Secara berkelompok siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian diminta mempresentasikan didepan kelas sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Disini guru bertindak sebagai fasilitator.

5.       Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya (bersifat holistik)

Aritmatika sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja, tetapi juga terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi, ekonomi, dan kehidupan sehari- hari.

c.       Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik

Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

  • Langkah 1: Memahami masalah kontekstual

Guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut,serta memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan masalah yang belum di pahami. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik keempat yaitu interaksi

 

  • Langkah 2: Menjelaskan masalah kontekstual

Jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.

  • Langkah 3 : Menyelesaikan masalah

Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua menggunakan model

  • Langkah 4 : Membandingkan jawaban

Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
Dipilih kelompok berpasangan, dengan pertimbangan efisiensi waktu. Karena di sekolah tempat pelaksanaan ujicoba, menggunakan bangku panjang. Sehingga kelompok dengan jumlah anggota yang lebih banyak, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pembentukannya. Sedangkan kelompok berpasangan tidak membutuhkan waktu, karena siswa telah duduk dalam tatanan kelompok berpasangan. Setelah diskusi berpasangan dilakukan, guru menunjuk wakil-wakil kelompok untuk menuliskan masing-masing ide penyelesaian dan alasan dari jawabannya, kemudian guru sebagai fasilitator dan modarator mengarahkan siswa berdiskusi, membimbing siswa mengambil kesimpulan sampai pada rumusan konsep/prinsip berdasarkan matematika formal (idealisasi, abstraksi). Karakteristik PMR yang muncul yaitu interaksi

  • Langkah 5: Menyimpulkan

Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah adanya interaksi antar siswa dengan guru.

C.     Kelebihan dan Kelemahan RME

Beberapa keunggulan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:

1.       Pelajaran menjadi cukup menyenangkan bagi siswa dan suasana tegang tidak tampak.

2.       Materi dapat dipahami oleh sebagian besar siswa.

3.       Alat peraga adalah benda yang berada di sekitar, sehingga mudah didapatkan.

4.       Guru ditantang untuk mempelajari bahan.

5.       Guru menjadi lebih kreatif membuat alat peraga.

6.       Siswa mempunyai kecerdasan cukup tinggi tampak semakin pandai.

Beberapa kelemahan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:

1.       Sulit diterapkan dalam suatu kelas yang besar(40- 45 orang).

2.       Dibutuhkan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran.

3.       Siswa yang mempunyai kecerdasan sedang memerlukan waktu yang lebih lama untuk mampu memahami materi pelajaran.

D.    Penerapan RME dalam Pembelajaran

Secara umum, teori RME terdiri dari  lima karakteristik  yang telah dibahas pada sub bab sebelumnya, Namun demikian, hendaknya guru  juga memperhatikan 3 aspek penilaian yang harus dicapai dalam pembelajaran, yaitu aspek pemahaman konsep, aspek penalaran dan komunikasi, serta aspek pemecahan masalah. Dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut maka guru dapat mengembangkan pendekatan atau model dalam proses pembelajaran serta media yang tepat dalam mendukung belajar peserta didik dalam kelas. Dengan suasana yang menyenangkan diharapkan peserta didik tidak jenuh lagi dalam belajar matematika, namun sebaliknya, diharapkan peserta didik dapat termotivasi untuk belajar dengan menyenangkan.

Sebagai ilustrasi berikut ini contoh soal dengan menggunakan kelima karakteristik RME untuk mengajarkan konsep pembagian di Sekolah Dasar pada usia 8 atau 9 tahun.  Guru mengenalkan masalah yang konteksnya real yaitu:  Pedagang telur.

Ibu membeli telur sebanyak 81 butir untuk membuat kue lebaran. Enam telur akan dibungkus pada satu kantong plastik. Berapa banyak kantong plastik yang dibutuhkan?

Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

Guru menggambarkan petunjuk berupa sketsa kantong plastik sebagai model pada papan tulis.

Siswa mulai bekerja dalam suatu group 3 atau 4 orang. Guru berjalan keliling kelas bertanya seadanya tentang proses memecahkan masalah. Siswa senang sekali akan proses belajar seperti ini.   Setelah sekitar 10 menit, guru mengakhiri bagian pelajaran ini. Siswa di minta untuk menunjukkan dan menjelaskan solusinya dalam diskusi yang interaktif. Ana hanya menyalin  sketsa yang ada di papan tulis sebanyak yang ia butuhkan untuk mengantongi.

Siswa lain, Ima, memulai dengan cara yang sama, tetapi setelah menggambar dua sketsa kantong plastik, ia mengubah ke sketsa yang lebih representatif: segi empat dengan angka 6. Setelah menggambar  dua kantong plastik, dia sadar bahwa isi dari lima kantong plastik sama dengan 30 butir telur.  Jadi melalui 30 ke 60 dan 72 serta 78.  Dan akhirnya ia menambahkan tiga  telur pada kantong plastik yang terakhir

Siswa ke tiga, Riza, mempunyai jawaban yang lebih jauh dalam matematisasi masalah.   Meskipun dia mulai dengan menggambar kantong plastik sebagai model, namun ia segera menggunakan konsep perkalian yang ia baru pelajari pada pelajaran yang lalu. Ia tulis 6 x 6 = 36 dan didobelkannya 36 ke 72 ditambahkannya 2 kantong plastik tadi untuk mendapatkan kapasitas 84.  Selesai.

Jika kita lihat ketiga macam solusi (dan tentunya banyak solusi lain) kita catat adanya suatu perbedaan level ‘real’ matematika pada soal ‘real-world’ ini.  Banyak guru akan mendebat bahwa jawaban pertama tidak ada matematikanya sama sekali. Tetapi visualisasi dan skematisasi (contoh informal matematika) adalah alat yang sangat penting dan berguna dalam matematisasi. Solusi ketiga, terkaitnya antara konsep perkalian dengan konsep baru yaitu pembagian,  membuat matematika lebih jelas.

BAB IV

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A.     Simpulan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Dimensi pertama dalam model adalah tanggung jawab guru untuk melakukan penawaran Kondisi yang sesuai untuk belajar matematika siswa.  Instruksi yang terpusat pada guru dikonseptualisasikan dalam cara yang lebih normatif, dimana guru terutama seharusnya menjelaskan prosedur dan memberikan arah, yang diyakini cukup dalam proses pembelajaran.
  2. Dimensi kedua dalam model adalah tanggung jawab guru untuk memulai Siswa untuk membangun pengetahuan matematika mereka sendiri. Produk yang mencerminkan pendapat siswa dan guru tentang pengalaman mereka sendiri pelajaran matematika menunjukkan kesempatan bagi penalaran siswa, untuk menggunakan pengalaman mereka, untuk membangun pengetahuan matematika. 
  3. Dimensi Specific Mathematics Content memungkinkan untuk menyoroti keberadaan konten matematika yang relevan di kelas matematika, menggambarkan sejauh mana guru mengambil tanggung jawab untuk menekankan isi dan bukan hanya bentuk kerja yang diwakili dalam dua faktor sebelumnya. 

B.     Implikasi

Dari kesimpulan di atas memberikan implikasi bahwa penerapan pendekatan matematika realistik ini dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi matematika. Penerapan pendekatan matematika realistik diharapkan dapat menarik minat belajar siswa dan mengarahkan siswa untuk aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran yaitu menyelidiki dan memahami konsep matematika melalui suatu masalah dalam situasi dunia nyata. Sehingga, siswa merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas dan siswa lebih mudah dalam memahami materi yang sedang dipelajari.

C.     Saran

Berdasarkan simpulan dari penulisan ini untuk mencapai kesuksesan dalam pembelajaran realistik penulis memberikan saran – saran sebagai berikut:

  1. Diperlukan adanya kesadaran siswa dalam bertanggung jawab terhadap setiap pelajaran disekolah.
  2. Diperlukan adanya kesadaran antara pengajar dengan siswa agar pembelajaran realistik dapat berjalan dengan baik.
  3. Setiap pengajar diharapkan menguasai bermacam- macam metode pembelajaran.
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

REVIEW BUKU METODE PENELITIAN PENDIDIKAN BAB VI : PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Pada awalnya, metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development) mulai diterapkan pada dunia industri dan merupakan ujung tombak dari suatu industri dalam menghasilkan produk-poduk baru yang dibutuhkan oleh pasar. Hampir 4% biaya digunakan untuk penelitian dan pengembangan dalam bidang industri, bahkan untuk bidang-bidang tertentu (komputer, farmasi) hampir melebihi 4% (Borg and Gall:1989). Dalam bidang sosial dan pendidikan, peranan Research and Development masih sangat kecil dan kurang dari 1% dari biaya pendidikan secara keseluruhan. Unfortunately, R & D still plays a minor role in education. Less than one percent of education expenditures are for this purpose. This is probably one of the main reason why progress in education has logged for behind progress in other field. ( Borg and Gall, 1989:773)

Pada masa lalu, penelitian dalam bidang pendidikan tidak diarahkan pada pengembangan suatu produk, tetapi ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan fenomena-fenomena yang bersifat fundamental, serta praktik-praktik pendidikan. Penelitian tentang fenomena-fenomena fundamental pendidikan tersebut dilakukan melalui penelitian dasar (basic research), sedang penelitian tentang praktik pendidikan dilakukan melalui penelitian terapan (applied research). Beberapa penelitian terapan secara sengaja diarahkan pada pengembangan produk, beberapa penelitian lain mengembangkan suatu produk secara tidak sengaja, karena dalam penelitiannya mengandung atau menuntut pengembangan produk.

Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dasar yang bersifat teoritis dengan penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau disambungkan dengan penelitian dan pengembangan. Sesuatu produk yang dihasilkan tentu saja memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut merupakan perpaduan dari sejumlah konsep, prinsip, asumsi, hipotesis, prosedur berkenaan dengan sesuatu hal yang telah ditemukan atau dihasilkan dari penelitian dasar.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana  peranan penelitian dan pengembangan?

2.      Apa  saja langkah- langkah yang digunakan  dalam penelitian dan pengembangan?

3.      Bagaimanakah tahap-tahap penelitian dan pengembangan yang dimodifikasi?

 C.     Tujuan

1.      Tujuan umum

Review ini bertujuan untuk memaparkan penelitian dan pengembangan.

2.      Tujuan khusus

a.       Untuk mengetahui peranan penelitian dan pengembangan.

b.      Untuk mengetahui langkah- langkah yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan

c.       Untuk mengetahui tahap-tahap penelitian dan pengembangan yang telah dimodifikasi

 D.    Manfaat

1.      Manfaat teoritis

Secara umum review ini memberikan sumbangan keilmuan  tentang  penelitian dan pengembangan. Secara khusus, review ini mmeberi urunan teori tentang penelitian dan pengembangan.

2.      Manfaat praktis

Pada tingkatan praktis review ini memberikan sumbangan kepada para peneliti dalam melakukan penelitian

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

A.     Pengertian Penelitian dan Pengembangan

Penelitian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau ingin menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prisip umum. Sedangkan pengembangan merupakan proses atau cara yang dilakukan untuk mengembangkan sesuatu menjadi baik atau sempurna.

Sujadi (2003:164) mengemukakan penelitian dan pengembangan atau Research and development adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Borg dan Gall (1983) memberikan batasan tentang penelitian dan pengembangan sebagai ”a process used develop and validate educational product” yaitu usaha untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan. Pengertian yang hampir sama jugs dikemukakan oleh Asim(2001:1).

Begitu pula dengan Suhadi Ibnu (2001:5) yang memberikan pengertian tentang penelitian dan pengembangan sebagai jenis penelitian yang ditujukan untuk menghasilkan suatu produk hardware atau software melalui prosedur yang khas yang biasanya diawali dengan need assessment atau analisis kebutuhan, dilanjutkan dengan proses pengembangan dan diakhiri dengan evaluasi.

 

B.     Metode Penelitian dan Pengembangan

Ada tiga macam metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan, yaitu:

1.      Metode penelitian deskriptif

Metode ini digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada, meliputi a) kondisi produk-produk yang sudah ada sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar untuk produk yang akan dikembangkan, b) kondisi pihak pengguna, seperti sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, serta pengguna lainnya, c) kondisi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan penggunaan produk yang akan dihasilkan, mencakup unsure manusia, sarana prasarana, biaya, pengelolaan dan lingkungan.

2.      Metode evaluatif

Metode ini digunakan untuk mengevaluasi proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk dikembangkan melalui serangkaian uji coba dan setiap uji coba diadakan evaluasi baik evaluasi hasil maupun evaluasi proses. Berdasarkan temuan-temuan hasil uji coba diadakan penyempurnaan.

3.      Metode eksperimen

Metode ini digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap uji coba telah ada evaluasi, tetapi pengukuran tersebut masih dalam rangka pengembangan produk dan belum ada kelompok pembanding. Dalam eksperimen telah diadakan pengukuran pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dipilih secara acak.

 

BAB III

ISI

 

A.     Konsep dan Pentingnya Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) adalah sebuah strategi penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik. Penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dan penelitian terapan. Sehingga ketiga penelitian tersebut saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Jika penelitian dasar menghasilkan konsep-konsep, prisip-prinsip, teori-teori, maka penelitian dan pengembangan mengembangkan model-model proses, bahan, sarana-fasilitas, sedangkan penelitian terapan menerapkan praktik pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.

Beberapa metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan yaitu metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental. Metode penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada. Metode evaluatif digunakan untuk mengevaluasi proses uji coba pengembangan suatu produk. Sedangkan metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan.

 B.     Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan

Menurut Borg dan Gall (1989) ada sepuluh langkah pelaksanaan penelitian dan pengembangan, yaitu:

1.      Penelitian dan pengumpulan data(research and information collecting), meliputi:

a.       Pengukuran kebutuhan

Kriteria yang dipertimbangkan dalam memilih produk yang akan dikembangkan, adalah:

1)      Apakah produk yang akan dibuat penting untuk bidang pendidikan?

2)      Apakah produk yang akan dikembangkan memiliki nilai ilmu , keindahan dan kepraktisan?

3)      Apakah para pengembang memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman dalam mengembangkan produk ini?

4)      Dapatkah produk tersebut dikembangkan dalam jangka waktu yang tersedia?

b.      Studi literatur

Studi ini ditujukan untuk menemukan konsep-konsep atau landasan-landasan teoritis yang memperkuat suatu produk, ruang lingkup suatu produk, keluasaan penggunaan, kondisi-kondisi pendukung agar produk dapat digunakan secara optimal, keunggulan dan kelemahan, serta langkah-langkah yang paling tepat dalam penggunaan produk tersebut.

c.       Penelitian dalam skala kecil

Kedua hasil studi diatas masih perlu dilengkapi dengan penelitian langsung ke lapangan tentang bagaimana hal yang akan diproduksi itu dilaksanakan.

d.      Pertimbangan-pertimbangan dari segi nilai.

2.      Perencanaan (planning)

Perencanaan meliputi rancangan produk yang akan dihasilkan (minimal mencakup tujuan penggunaan produk, siapa penggunanya, deskripsi dari komponen-komponen produk dan penggunannya) serta proses pengembangan.

3.      Pengembangan draf produk (develop preliminary form of product)

Pengembangan draf produk ini meliputi pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrument evaluasi.

4.      Uji coba awal (preliminary field testing)

Uji coba di sekolah lebih baik karena berpraktik dalam situasi yang sesungguhnya. Uji coba di lapangan ada 1 sampai 3 sekolah dengan 6 sampai 12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba diadakan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket.

5.      Revisi hasil uji coba (main product revision)

Memperbaiki hasil uji coba.

6.      Uji coba lapangan (main field testing)

Pada tahap ini, masih difokuskan pada pengembangan dan penyempurnaa materi produk, belum memperhatikan kelayakan dalam konteks populasi. Uji coba dilakukan lebih luas yaitu pada 5 sampai 15 sekolah dengan 30 sampai 100 orang subjek uji coba. Data kuantitatif penampilan guru sebelum dan sesudah menggunakan model dikumpulkan. Hasil-hasil pengumpulan data dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok pembanding.

7.      Penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan (operational product revision)

Dalam penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan kelayakan produk dalam konteks populasi mulai diperhatikan.

8.      Uji coba pelaksanaan lapangan (operational field testing)

Dilaksanakan pada 10 sampai 30 sekolah melibatkan 40 sampai dengan 200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, dan observasi kemudian analisis hasilnya.

9.      Penyempurnaan produk akhir (final product revision)

Penyempurnaan dalam tahap akhir ini didasarkan pada masukan uji pelaksanaan lapangan.

10.  Desiminasi dan implementasi (dissemination and implementation)

Diseminasi merupakan langkah untuk mensosialisasikan hasil. Sehingga diseminasi dari produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga di bawah Depdiknas sangat mudah. Berbeda dengan produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga swasta/ perorangan yang membutuhkan sosialisasi yang cukup panjang dan lama.

Jika kesepuluh langkah penelitian dan pengembangan tersebut diikuti dengan benar, dapat menghasilkan sebuah produk pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan yang siap dioperasikan atau digunakan di sekolah-sekolah.

 C.      Modifikasi Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan

Menurut Sukmadinata (2005) secara garis besar langkah penelitian dan pengembangan yang telah dikembangkan olehnya terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1.      Studi Pendahuluan

Studi ini merupakan tahap awal untuk pengembangan yang terdiri atas:

a.       Studi kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan kajian untuk mempelajari konsep-konsep atau teori-teori yang berkenaan dengan model yang akan dikembangkan.

 b.      Survei lapangan

Survei lapangan dilaksanakan untuk mengumpulkan data berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika di sekolah dasar terutama yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan koneksi matematika. Data yang dikumpulkan meliputipersepsi, motivasi dan keterampilan guru mengembangkan kemampuan koneksi matematika, pelaksanaan pembelajaran, factor-faktor pendukung pembelajaran, aspek siswa yang meliputi kemampuan, sikap, motivasi dan minat belajar matematika. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, studi documenter, dan pengamatan pada waktu guru mengajar.

c.       Penyusunan draf produk

Draf produk disusun berdasarkan data yang telah diperoleh dari survey lapangan dan mengacu pada dasar-dasar teori atau konsep yang disimpulkan dari hasil studi kepustakaan. Draf tersebut selanjutnya direview dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para ahli dalam bidang kurikulum dan pembelajaran, pendidikan matematika, dan beberapa guru senior yang punya pengalaman dalam pembelajaran dan pelatihan matematika. Selanjutnya, draf disempurnakan berdasarkan masukan-masukan dari pertemuan review kemudian draf digandakan sesuai kebutuhan.

2.      Studi Pengembangan

Studi pengembangan yang merupakan kelanjutan studi pendahuluan memiliki dua langkah:

a.       Uji coba terbatas

Dalam pelaksanaan uji coba terbatas, guru-guru pelaksana uji coba melaksanakan pembelajaranberdasarkan RPP yang telah mereka susun. Tugas peneliti adalah mengamati , mencatat hal-hal penting yang dilakukan guru dan siswa meliputi kelebihan dan kelemahan guru serta perkembangan siswa.

Peneliti memberikan catatan penyempurnaan terhadap draf model pembelajaran yang digunakan. Pada akhir pembelajaran satu RPP para peneliti mengadakan pertemuan membicarakan temuan-temuan dari uji coba  kemudian menyempurnakan model pembelajaran yang dikembangkan.

 b.      Uji coba lebih luas

Uji coba lebih luas dilakukan dengan sampel sekolah dan guru yang lebih sekolah yang diambil berbeda dengan uji coba terbatas. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan stratified cluster random. Untuk langkah-langkah kegiatan selanjutnya sama dengan uji coba terbatas.

3.      Uji produk dan sosialisasi hasil

Uji produk merupakan tahap pengujian keampuhan dari produk yang dihasilkan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dimana terdapat dua kelompok sampel, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Pelaksanaan pengujian ada dua tahap, yaitu:

a.       Pre tes (dilakukan sebelum dimulai pembelajaran)

b.      Pos tes (dilakukan setelah selesai pembelajaran)

Setelah selesai eksperimen dan pemberian post tes, diadakan analisis statistic uji perbedaan. Uji perbedaan yang dihitung adalah antara hasil pre tes dengan post tes pada kelompok eksperimen, pada kelompok kontrol, uji perbedaan pre tes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, post tes antara kelompok kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dan antara perolehan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Produk yang dihasilkan dihasilkan disosialisasikan ke sekolah-sekolah untuk diterapkan.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

A.     Peranan Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggris disebut Research and development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Sedangkan di dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan yang lebih dikenal dengan Educational Research and Development merupakan suatu proses dalam mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan yang dapat berupa materi ajar misalkan buku dan modul, media, instrument evaluasi, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, maupun bimbingan.

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan. Sedangkan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Jadi penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal (bertahap bisa multy years). Sebagai contoh, Penelitian Hibah Bersaing adalah penelitian yang menghasilkan produk, sehingga metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development).

Penelitian dan pengembangan memiliki fungsi:

1.      Sebagai strategi memperbaiki praktik

2.      Sebagai proses untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras.seperti modul, alat bantu pembelajaran dikelas atau dilaboratorium tetapi bisa juga perangkat lunak seperti program komputer untuk pengolahan data, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran , pelatihan , bimbingan, evaluasi, manajemen.

3.      Sebagai  penghubung kesenjangan penelitian dasar dan penelitian terapan. Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya kesenjangan antara hasil-hasil penelitian yang bersifat teoristis dengan penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat diminimalkan dengan penelitian dan pengembangan. Suatu produk yang akan dihasilkan apakah itu perangkat keras atau perangkat lunak, memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut merupakan perpaduan dari sejmulah konsep prinsip, asumsi , hipotesis, prosedur berkenaan dengan sesuatu hal yang telah ditemukan atau yang dihasilkan dari penelitian dasar.

B.     Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan

Menurut Borg dan Gall (1989) ada  langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menghasilkan produk tertentu dan untuk menguji keefektifan produk yang dimaksud. Adapun langkah-langkah penelitian dan pengembangan adalah :

1.      Potensi dan masalah

Penelitian ini dapat berangkat dari adanya potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki suatu nilai tambah pada produk yang diteliti. Pemberdayaan akan berakibat pada peningkatan mutu dan akan meningkatkan pendapatan atau keuntungan dari produk yang diteliti. Masalah juga bisa dijadikan sebagai potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya. Sebagai contoh sampah dapat dijadikan potensi jika kita dapat merubahnya sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian harus ditunjukkan dengan data empirik.

Masalah akan terjadi jika terdapat penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Masalah ini dapat diatasi melalui R&D dengan cara meneliti sehingga dapat ditemukan suatu model, pola atau sistem penanganan terpadu yang efektif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

2.      Mengumpulkan Informasi dan Studi Literatur

Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukan secara faktual, maka selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi dan studi literatur yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

Studi ini ditujukan untuk menemukan konsep-­konsep atau landasan-landasan teoretis yang memperkuat suatu, produk. Produk pendidikan, terutama produk yang berbentuk model, program, sistem, pendekatan, software dan sejenisnya memiliki dasar-dasar konsep atau teori tertentu. Untuk menggali konsep-konsep atau teori-teori yang mendukung suatu produk perlu dilakukan kajian literatur secara intensif. Melalui studi literatur juga dikaji ruang lingkup suatu produk, keluasan penggunaan, kondisi-kondisi pendukung agar produk dapat digunakan atau diimplementasikan secara optimal, serta keunggulan dan keter­batasannya. Studi literatur juga diperlukan untuk mengetahui langkah-langkah yang paling tepat dalam pengembangan produk tersebut.

Produk yang dikembangkan dalam pendidikan dapat berupa perangkat keras seperti alat bantu pembelajaran, buku, modul atau paket belajar, dll., atau perangkat lunak seperti program-program pendidikan dan pembelajaran, model-model pendidikan, kurikulum, implementasi, evaluasi, instrumen pengukuran, dll. Beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam memilih produk yang akan dikembangkan.

a.       Apakah produk yang akan dibuat penting untuk bidang pendidikan?

b.      Apakah produk yang akan dikembangkan memiliki nilai ilmu, keindahan dan kepraktisan?

c.       Apakah para pengembang memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam mengembangkan produk ini?

d.      Dapatkah produk tersebut dikembangkan dalam jangka waktu yang tersedia?

3.      Desain Produk

Produk yang dihasilkan dalam produk penelitian research and development bermacam-macam. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya serta memudahkan pihak lain untuk memulainya. Desain sistem ini masih bersifat hipotetik karena efektivitasya belum terbukti, dan akan dapat diketahui setelah melalui pengujian-pengujian.

Dalam hal ini, desain produk masih berupa perencanaan yang  meliputi rancangan produk yang akan dihasilkan (minimal mencakup tujuan penggunaan produk, siapa penggunanya, deskripsi dari komponen-komponen produk dan penggunannya) serta proses pengembangan.

4.      Validasi Desain

Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini sistem kerja baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan.

Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli  yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Setiap pakar diminta untuk menilai desain tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dapat dilakukan dalam forum diskusi. Sebelum diskusi peneliti mempresentasikan proses penelitian sampai ditemukan desain tersebut, berikut keunggulannya.

5.      Perbaikan Desain

Setelah desain produk, divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli lainnya . maka akan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain. Yang bertugas memperbaiki desain adalah peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut.

6.      Uji coba Produk

Desain produk yang telah dibuat tidak bisa langsung diuji coba dahulu. Tetapi harus dibuat terlebih dahulu, menghasilkan produk, dan produk tersebut yang diujicoba. Pengujian dapat dilakukan dengan ekperimen yaitu membandingkan efektivitas dan efesiensi sistem kerja lama dengan yang baru.

7.      Revisi Produk

Pengujian produk pada sampel yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa kinerja sistem kerja baru ternyata yang lebih baik dari sistem lama. Perbedaan sangat signifikan, sehingga sistem kerja baru tersebut dapat diberlakukan.

8.      Ujicoba Pemakaian

Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yang berupa sistem kerja baru tersebut diterapkan dalam kondisi nyata untuk lingkup yang luas. Dalam operasinya sistem kerja baru tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut.

9.      Revisi Produk

Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam perbaikan kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelebihan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal ini adalah sistem kerja.

  10.  Pembuatan Produk Masal

Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diujicoba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan ligkungan memenuhi. Jadi untuk memproduksi pengusaha dan peneliti harus bekerja sama.

C.     Tahap-tahap Penelitian dan Pengembangan yang Dimodifikasi

Penelitian dan pengembangan yang dimodifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall. Secara garis besar dikembangkan oleh Sukmadinata dan kawan-kawan terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1.            Studi Pendahuluan

Tahap pertama studi pendahuluan merupakan tahap awal atau persiapan untuk pengembangan. Tahap ini terdiri atas tiga langkah:

a.Studi kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan kajian untuk mempelajari konsep-konsep atau teori-teori yang berkenaan dengan produk atau model yang akan dikembangkan. Umpamanya untuk penyusunan model pembelajaran bagi pengem­bangan kemampuan berkomunikasi anak SD kelas tinggi. studi kepustakaan difokuskan mengkaji konsep dan teori-teori tentang model-model pembelajaran bahasa, khususnya dalam pengembang­an berkomunikasi. Studi kepustakaan juga mengkaji perkembang­an, karakteristik anak SD kelas tinggi (kelas 5 dan 6) khususnya dalam kemampuan berkomunikasi. Selain dari itu studi kepusta­kaan juga mengkaji hasil-hasil. penelitian terdahulu yang berkenaan dengan pembelajaran bahasa dan berkomunikasi.

b.Survei lapangan

Survei lapangan dilaksanakan untuk mengumpulkan data berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika di sekolah dasar terutama yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan koneksi matematika. Data yang dikumpulkan meliputipersepsi, motivasi dan keterampilan guru mengembangkan kemampuan koneksi matematika, pelaksanaan pembelajaran, factor-faktor pendukung pembelajaran, aspek siswa yang meliputi kemampuan, sikap, motivasi dan minat belajar matematika. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, studi documenter, dan pengamatan pada waktu guru mengajar.

c. Penyusunan produk awal atau draf model (karena yang dikembang­kan umumnya berbentuk model)

Draf model tersebut selanjutnya direvisi dalam sebuah pertemu­an yang dihadiri oleh para ahli dalam bidang kurikulum dan pembelajaran, pendidikan bahasa Indonesia, dan beberapa guru SD senior yang punya pengalaman dalam pembelajaran dan pelatihan bahasa Indonesia. Berdasarkan masukan-masukan dari pertemuan review di atas, tim peneliti mengadakan penyempurnaan draf model tersebut. Draf yang  telah disempurnakan, digandakan sesuai dengan kebutuhan.

 

2. Uji Coba Terbatas dan Uji Coba Lebih Luas

Selesai kegiatan pada tahap pertama Studi Pendahuluan, kegiatan dilanjutkan dengan tahap kedua, Uji Coba Pengembangan Produk pendidikan (model pembelajaran komunikatif). Dalam tahap ini ada dua langkah, langkah pertama melakukan uji coba terbatas dan langkah kedua uji coba lebih lugas.

1.   Uji coba terbatas

Dalam pelaksanaan uji coba terbatas, guru-guru pelaksana uji coba melaksanakan pembelajaran berdasarkan satuan pelajaran yang mereka susun. Selama kegiatan pembelajaran, peneliti melakukan pengamatan, mencatat hal-hal penting yang dilakukan guru, baik hal-hal baik maupun kekurangan, kelemahan, kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan guru. Selain kegiatan guru, pengamatan dan pencatatan juga dilakukan terhadap respon, aktivitas dan kemajuan-kemajuan yang dicapai siswa.

Selesai satu pertemuan, peneliti mengadakan diskusi dengan guru membicara­kan apa yang sudah berjalan, terutama kekurang/kelemahan dan kesalahan atau penyimpangan yang dilakukan. Berdasarkan masukan-masukan tersebut guru mengadakan perbaikan terhadap satpelnya atau mencatat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Peneliti mengadakan memberikan catatan penyempurnaan terhadap draf model pembelajaran yang digunakan.

Selesai pembelajaran satu satpel para peneliti mengadakan pertemuan membicarakan temuan­temuan dari uji coba. Berdasarkan temuan-temuan tersebut peneliti mengadakan penyempurnaan terhadap model pembelajaran yang dikembangkan. Kalau ada perubahan yang sangat berarti dalam draf model pembelajaran tsb., maka peneliti memberitahukan kepada guru pelaksana uji coba agar dalam penyusunan satuan pelajaran disesuaikan dengan perubahan tersebut.

Demikian dilakukan dengan satuan pelajaran atau pokok bahasan berikutnya. Setelah beberapa putaran dilakukan dan masukan-masukan perbaikan satpel dan draf model pembelajaran tidak ada lagi, maka kegiatan uji coba dihentikan. Selesai putaran uji coba terbatas para peneliti mengadakan pertemuan untuk membahas temuan-temuan dan melakukan penyempurnaan terakhir sebelum uji coba lebih luas.

2.      Uji coba lebih luas

Uji coba lebih luas dilakukan dengan sampel sekolah dan guru yang lebih banyak, yaitu 6 sekolah dan 12 orang guru. Sekolah yang diambil berbeda dengan uji coba terbatas. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan stratified-cluster random, yaitu diambil satu sekolah baik di pusat kota dan satu di pinggiran kota, satu sekolah sedang di pusat dan satu di pinggiran dan satu sekolah kurang di kota dan satu di pinggiran kota. Pada masing-masing sekolah diambil dua orang guru sehingga jumlah guru pelaksana uji coba lebih luas ini berjumlah 12 orang.

Langkah kegiatan pada uji coba ini sama dengan uji coba terbatas, dimulai dengan penyusunan satuan pelajaran hingga pengamatan, diskusi dan penyempurna­an dilakukan terus sampai dinilai tidak ada lagi kekurangan atau kelemahan, sehingga uji coba dapat dihentikan. Para peneliti mengadakan pertemuan penyempurnaan draf terakhir, dan setelah kegiatan ini draf sudah dinilai final.

3. Uji Produk  dan Sosialisasi Hasil

Uji produk merupakan tahap pengujian keampuhan dari produk yang dihasilkan. Dalam pelaksanaan pengujian digunakan dua kelompok sampel, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jumlah kelompok eksperimen sebanyak kelompok uji coba lebih luas, dalam penelitian kami berjumlah 12 guru atau 12 kelas dari 6 sekolah masing-masing satu sekolah dari kategori baik di pusat kota, pinggiran kota, sekolah sedang di pusat dan sekolah pinggiran kota dan sekolah kurang dari pusat kota dan pinggiran kota. Kelompok kontrol jumlah dan kategorinya sama dengan kelompok eksperimen. Di samping pertimbangan kategori dan lokasi pemilihan kelompok kontrol juga didasarkan atas kesamaan statusnya sebagai SD inti atau imbas, latar belakang dan pengalaman guru, sarana dan fasilitas pembelajaran yang dimiliki. Dengan dasar-dasar pertimbangan pemilihan tersebut masing­masing pasangan kelompok dinilai sama atau setara sehingga memenuhi syarat sebagai berpasangan atau matching.

Dengan gambaran kelompok eksperimen dan kelompok kontrol seperti di atas desain eksperimen yang digunakan termasuk “The Matching Only Pretest-Posttest Control Group Design”.

Dalam pelaksanaan eksperimen guru pada kelas-kelas kelompok eksperimen dalam pembelajarannya menggunakan model pembe­lajaran komunikatif sedang pada kelompok kontrol menggunakan pembelajaran biasa. Pokok bahasan yang diajarkan, buku sumber dan alat bantu yang digunakan relatif sama. Sebelum dirnulai pembelajaran diberikan pretest yang sama dan setelah selesai seluruh pembelajaran pokok bahasan juga diberi post test yang sama. Dalam kegiatan eksperimen tidak ada perbaikan model pembelajaran maupun satuan pelajaran, keduanya menggunakan model yang telah dikembangkan pada uji coba lebih luas.

Setelah selesai eksperimen dan pemberian post tes, diadakan analisis statistik uji perbedaan. Uji perbedaan yang dihitung adalah antara hasil pretest dengan posttest pada kelompok eksperimen, dan pada kelompok kontrol, uji perbedaan pretest antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, post test antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, dan antara perolehan (gain) kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Produk yang dihasilkan disosialisasikan ke sekolah-sekolah untuk diterapkan.

 

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A.     Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, maka simpulan yang dapat diambil adalah:

a.       Penelitian dan pengembangan merupakan strategi  memperbaiki praktik,

       proses untuk mengembangkan produk baru/ produk yang sudah ada, dan    penghubung kesenjangan penelitian dasar dan penelitian terapan

b.      Metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan yaitu metode deskriptif,evaluatif, dan eksperimen

c.       Langkah-langkah penelitian dan pengembangan yaitu studi pengembangan, pengembangan, dan pengujian

B.     Implikasi

Implikasi simpulan butir satu yaitu jika penelitian dan pengembangan dilakukan dengan baik maka praktik yang dilaksanakan juga akan baik dan dapat mengembangkan produk yang sudah ada serta dapat meminimalisir kesenjangan dalam penelitian.

Implikasi simpulan butir dua yakni jika metode dilakukan dengan baik maka hasil penelitian lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Implikasi butir tika adalah jika langkah-langkah dilakukan dengan runtut maka akan menghindari adanya kesalahan dalam penelitian.

C.                    Saran

Berdasarkan  hasil review buku ini dapat diajukan beberapa saran. Saran tersebut ditujukan kepada mahasiswa dan peneliti berikutnya.

a.       Bagi Mahasiswa

      Agar setiap mahasiswa dapat berperan aktif dalam melakukan suatu penelitian dan pengembangan serta menjadikan review buku ini sebagai referensi untuk menentukan sumber pengetahuan dan pendekatan ilmiah yang akan digunakan.

 

b.      Bagi Peneliti Berikutnya

Review buku ini masih jauh dari kesempurnaan, maka sebaiknya dilakukan review lebih lanjut sehingga dapat melengkapi kekurangan yang terdapat dalam review buku ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sugiyono.2010.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sutama.2010. Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta: Fairus Media

http://oryza-sativa135rsh.blogspot.com/2011/01/metode-penelitian-research-and.html

https://izaskia.wordpress.com/tag/penelitian-research-and-development/

http://jujunwahyudin.blogspot.com/2011/03/penelitian-r.html

http://www.masbied.com/2010/03/20/penelitian-dan-pengembangan/

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

BAB 1

PENDAHULUAN

 

Menurut UNESCO, pendidikan pada abad ini harus diorientasikan terhadap pencapaian 4 pilar pembelajaran yaitu : (1) Learning to know (belajar untuk tahu), (2) learning to do (belajar untuk melakukan), (3) Lerning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri), (4) learning to livetogether (belajar bersama dengan orang lain). Bila seorang guru dapat membekali siswanya dan memberi pondasi agar 4 pilar tadi dapat berdiri kokoh, betapa bahagianya siswa yang mempunyai guru atau pendidik yang berkualitas seperti itu. Dan betapa bangganya bangsa dan negara ini bila pendidikan bisa menjadi tonggak berdirinya suatu negara yang kokoh. Untuk mendapatkan hasil dari proses pendidikan yang maksimal tentunya diperlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif serta didukung dengan faktor pendanaan yang mencukupi. Inovasi pendidikan tidak hanya pada inovasi sarana dan prasarana pendidikan serta kurikulum saja melainkan juga proses pendidikan itu sendiri.

Inovasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan guna meningkatkan prestasi kearah yang maksimal. Inovasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran. Kewajiban sebagai pendidik atau guru , tidak hanya transfer of Knowlegde tapi juga dapat mengubah prilaku, memberikan dorongan yang positif sehingga siswa termotivasi, memberi suasana belajar yang menyenangkan agar mereka bisa berkembang semaksimal mungkin. Guru tidak hanya mengolah otak siswanya tapi juga mengolah jiwa anak didiknya, bila seorang guru hanya mengolah otak tanpa mempedulikan jiwa anak didiknya, alhasil mereka tumbuh menjadi manusia robot yang tidak berhati.

Anak yang cerdas, bukan saja anak yang nilai ulangannya baik, nilai rapornya tinggi, tapi emosional dan fungsi motoriknya berjalan dengan baik hingga tugas guru adalah menciptakan iklim belajar dalam pembelajaran yang sehat dan menyenangkan, memberikan dorongan kepada para siswanya agar mempunyai motivasi yang tinggi. Karenanya guru harus mengetahui model model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami yang berikan oleh gurunya secara seksama.

Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan metode yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru harus senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Terdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru antara lain ; meode ceramah, metode Tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional  adalah dengan menggunakan model pembelajaran tipe jigsaw. Pembelajaran  model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya.

Dalam masalah ini akan dipaparkan pengertian pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Bagaimana langkah-langkah menerapkannya, kelebihan dan kelemahan model pembelajaran ini, serta bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan dalam menerapkan model sehingga mengarah pada pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang inovatif.

BAB II

PEMBAHASAN

            Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga informasi lebih mudah diperoleh. Hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa  dalam proses belajar mengajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak hanya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalkan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru maembuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya.

Menurut Piaget, perkembangan kognitif maupun empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya; 3) interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkunga sosial, dan 4) ekulibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Hal ini juga diperkuat oleh teori belajar kognitif lainnya yaitu oleh teori Vygotsky yang dikenal dengan “scaffolding”. Scaffolding adalah memberikan kepada seorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjekan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.

 A.       Metode Pembelajaran Jigsaw

Pada awalnya metode ini dikembangkan oleh Elliot Arronson dari Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin (Nurhadi, 2004:65). Metode  jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.

Langkah-langkah dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Jigsaw adalah:

a.         Kelas dibagi menjadi beberapa tim atau kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang dengan karakteristik yang berbeda.

b.        Setiap siswa yang ada di “kelompok awal” mengkhususkan diri pada satu bagian dari sebuah unit pembelajaran. Para siswa kemudian bertemu dengan anggota kelompok lain yang ditugaskan untuk mengerjakan bagian yang lain, dan setelah menguasai materi lainnya ini mereka akan pulang ke kelompok awal mereka dan menginformasikan materi tersebut ke anggota lainnya.

c.         Semua siswa dalam “kelompok awal” telah membaca materi yang sama dan mereka bertemu serta mendiskusikannya untuk memastikan pemahaman.

d.        Mereka kemudian berpindah ke “kelompok jigsaw” – dimana anggotanya berasal dari kelompok lain yang telah membaca bagian tugas yang berbeda. Dalam kelompok-kelompok ini mereka berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok lain dan mempelajari materi-materi yang baru.

e.         Setelah menguasai materi baru ini, semua siswa pulang ke “kelompok awal” dan setiap anggota berbagi pengetahuan yang baru mereka pelajari dalam kelompok “jigsaw.” Seperti dalam “jigsaw puzzle” (teka-teki potongan gambar), setiap potongan gambar – analogi dari setiap bagian pengetahuan – adalah penting untuk penyelesaian dan pemahaman utuh dari hasil akhir

Jigsaw adalah teknik pembelajaran aktif yang biasa digunakan karena teknik ini mempertahankan tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi. Menurut Arends(1997) Fasilitator / guru dapat mengatur strategi jigsaw dengan dua cara:

  • Pengelompokkan Homogen :

Instruksi: Kelompokkan para peserta yang memiliki kartu nomor yang sama. Misalnya, para pe­serta akan diorganisir ke dalam kelompok diskusi berdasarkan apa yang mereka baca. Oleh karena itu, semua peserta yang membaca Bab 1, Bab 2, dst, akan ditempatkan di kelompok yang sama.

Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di atas meja.

Kelebihan: Pengelompokan semacam ini memungkinkan peserta berbagi perspektif yang ber­beda tantang bacaan yang sama, yang secara potensial diakibatkan oleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap salah satu bab. Potensi yang lebih besar untuk memunculkan proses analisis daripada hanya sekedar narasi sederhana.

Kelemahan: fokusnya sempit (satu bab) dan kemungkinan akan berlebihan.

 

  • Pengelompokkan Hiterogen

Instruksi: Tempatkan para peserta yang memiliki nomor yang berbeda-beda untuk duduk ber­sama. Misalnya, setiap kelompok diskusi kemungkinan akan terdiri atas 4 individu: satu yang telah membaca Bab 1, satu yang telah membaca Bab 2, dsb.

Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di setiap meja. Biarkan para peserta mencari tempatnya sendiri sesuai bab yang telah mereka baca berdasarkan “siapa cepat ia dapat”.

Kelebihan: Memungkinkan “peer instruction” dan pengumpulan pengetahuan, memberikan pe­serta informasi dari bab-bab yang tidak mereka baca.

Kelemahan: Apabila satu peserta tidak membaca tugasnya, informasi tersebut tidak dapat dibagi/ didiskusikan. Potensi untuk pembelajaran yang naratif (bukan interpretatif) dalam berbagi infor­masi.

 

B.       Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Menurut Ibrahim dkk (2000) menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada dari guru. Ratumanan (2002) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Menurut Kardi & Nur (2000) belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki hubungan antara siswa normal dan siswa penyandang cacat. Davidson (1991) memberikan sejumlah implikasi positif dalam belajar matematika dengan menggunakan strategi belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut:

1.      Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar matematika.

Kelompok kecil membentuk suatu forum dimana siswa menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar dari pendapat orang lain, memberikan kritik yang membangun dan menyimpulkan penemuan mereka dalam bentuk tulisan.

2.      Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa dalam matematika. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah.

3.      Masalah matematika idealnya cocok untuk diskusi kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan secara objektif. Seorang siswa dapat mempengaruhi siswa lain dengan argumentasi yang logis.

4.      Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.

5.      Ruang lingkup matematika dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang bermanfaat bila didiskusikan. Belajar kooperatif dapat berbeda dalam banyak cara, tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut (1) tujuan kelompok, (2) tanggung jawab individual, (3) kesempatan yang sama untuk sukses, (4) kompetisi kelompok, (5) spesialisasi tugas, dan (6) adaptasi untuk kebutuhan individu (Slavin-1995).

 

C.       Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw

Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi ‘pengganjal’ aplikasi metode ini dilapangan yang harus kita cari jalan keluar atau solusinya, menurut (Roy Killen, 1996) adalah:

1.      Prinsip utama pola pembelajaran ini adalah “peer teaching”,

pembelajaran oleh teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan di diskusiskan bersama dengan siswa lain. Dalam hal ini pengawasan guru menjadi hal mutlak di perlukan, agar jangan sampai terjadi “missconception”.

2.      Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan meteri pada teman, jika siswa tidak punya rasa percaya diri. Pendidik harus mempu memainkan perannya mengorkestrasikan metode ini.

3.      Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.

4.      Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.

5.      Aplikasi metode ini pada kelas yang besar (lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit. Tapi bisa diatasi dengan model “team teaching”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat di sederhanakan baik kelebihan maupun kelemahan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu:

 

1.      Guru berperan sebagai pedamping, penolong, dan mengarahkan siswa dalam mem[elajari materi pada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada teman-temannya.

2.      Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.

3.      Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan atau kelemahan-kelemahan, yaitu:

1.      Pembagian kelompok yang tidak heterogen, dimungkinkan kelompok yang anggotanya lemah semua.

2.      Penugasan anggota kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.

3.      Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.

4.      Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi ketika sebagai tenaga ahli sehingga dimungkinkan terjadinya kesalahan(miskonsepsi)

 

Solusi untuk mengatasi kelemahan

            Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang muncul dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.      Pengelompokan dilakukan dengan terlebih dahulu mengurutkan kemampuan matematika siswa dalam kelas (siswa tidak perlu tahu).  Misalnya jumlah siswa dalam kelas 32 orang, kita bagi dalam bagian 25% (rangking 1-8) kelompok sangat baik, 25% (rangking 9-16) kelompok baik, 25 % selanjutnya (rangking 17-24) kelompok sedang. 25% (rangking 25-32) rendah. Selanjutnya kita akan membaginya menjadi 8 grup (A-H) yang isi tiap-tiap grupnya heterogen dalam kemampuan matematika, berilah indeks 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indek 2 untuk kelompok baik, indek 3 untuk kelompok sedang dan indek 4 untuk kelompok rendah.

2.      Sebelum tim ahli kembali ke kelompok asal yang akan bertugas sebagai tutor sebaya, perlu dilakukan tes penguasaan materi yang menjadi tugas mereka. Bila ditemukan ada anggota ahli yang belum tuntas, maka dilakukan remedial yang dilakukan oleh teman satu tim.

 

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:

1.      Penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat mendorong siswa untuk menjadi siswa yang mandiri dan otonom.

2.      Pergeseran peran guru selama pembelajaran sehingga mendorong adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa.

 

B.  Saran

1.      Dalam menerapkan pembelajarn kooperatif tipe jigsaw harus memperhatikan tingkat heterogenitas masing-masing kelompok asal danb pemberian tugas yang akan menjadi tim ahli sesuai dengan kemampuan siswa.

2.      Guru harus selalu memupuk tanggung jawab individu maupun kelompok dalam pembelajaran.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

PENDIDIKAN PROFESI GURU, USAHA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS GURU INDONESIA

A.     Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa  guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana, atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.

Pendidikan Profesi Guru ditempuh melalui Sertifikasi Guru dalam Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor18 Tahun 2007); dan Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009).

B. Sertifikasi Guru dalam Jabatan

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Sertifikasi tersebut  dapat diikuti oleh guru yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV). Sertifikasi tersebut diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Untuk memperoleh sertifkat pendidik, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi. Uji kompetensi dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yakni penilaian sekumpulan dokumen yang mendeskripsikan: (a) kualifikasi akademik, (b) pendidikan dan pelatihan; (c) pengalaman mengajar; (d) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (e) penilaian dari atasan dan pengawas; (f) prestasi akademik; (g) karya pengembangan profesi; (h) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (i) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan (j) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Guru yang lulus penilaian portofolio mendapatkan sertifikan pendidik, sedangkan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat (a) melakukan kegiatan yang dapat melengkapi portofolio agar mencapai nilai lulus, atau (b) mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG) yang diakhiri dengan ujian.

Ujian PLPG mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru dalam jabatan yang lulus PLPG mendapat sertifikat pendidik.

Menteri Pendidikan Nasional menetapkan jumlah dan kuota peserta sertifikasi bagi guru dalam jabatan setiap tahun.

C. Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan

Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan yang selanjutnya disebut dengan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Program PPG diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Seleksi penerimaan peserta didik program PPG dilakukan oleh program studi/jurusan di bawah koordinasi LPTK penyelenggara. Hasil seleksi dilaporkan oleh LPTK penyelenggara kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Kuota jumlah penerimaan peserta didik secara nasional ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional.

Lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang tidak sesuai dengan program PPG yang akan diikuti, harus mengikuti program matrikulasi.

D. Kriteria LPTK Penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pra Jabatan

Lembaga penyelenggara PPG sesuai Undang-undang Nomor 14 tahun 2005, Pasal 11 ayat

2 adalah perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang
memenuhi persyaratan akreditasi dan ditunjuk oleh pemerintah. Acuan penunjukan LPTK
sebagai penyelenggara PPG ditentukan berdasarkan pemenuhan persyaratan yang terkait
dengan peringkat akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT),
ketaatan azas dalam penyelenggaraan perguruan tinggi sesuai dengan peraturan
perundangan yang ada, komitmen LPTK dalam memberikan laporan evaluasi diri, verifikasi
lapangan untuk memeriksa kesesuaian antara evaluasi diri dengan kenyataan yang
sebenarnya tentang kualitas sumber daya manusia, kualitas sarana dan prasarana dalam
pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di program studi kependidikan, dan Program
Pengalaman Lapangan (PPL). Secara rinci, kriteria itu adalah sebagai berikut:

1.      Penyelenggara Program PPG

Pendidikan profesi guru (PPG) adalah program pendidikan yang berada di LPTK,
yang penyelenggaraannya dilakukan oleh jurusan dan/atau program studi yang
terkait/relevan.

2.       Pengelola Program PPG

PPG dikelola oleh Ketua dan/atau Sekretaris program studi yang ada.

3.      Peringkat Akreditasi BAN-PT

Penyelenggara PPG adalah program pendidikan S-1 sesuai dengan program
pendidikan profesi yang diselenggarakan minimal terakreditasi B.

4.      Ketaatan azas dalam penyelenggaraan perguruan tinggi sesuai dengan peraturan
perundangan. LPTK tidak menyelenggarakan program yang bertentangan dengan
kebijakan Ditjen Dikti, seperti kelas jauh, program studi tanpa ijin, kelas Sabtu-
Minggu, tidak sedang dikenai sanksi Ditjen Dikti, atau melakukan
pemendekan/pemampatan masa studi.

5.      Komitmen LPTK dalam memberikan laporan evaluasi diri berdasar fakta,
melakukan analisis dan pengembangan program ke depan.

6.      Keberadaan dan kualitas Sumber Daya Manusia

a.       Memiliki tenaga pengajar tetap 2 orang berkualifikasi doktor dan 4 orang
berkualifikasi magister yang memiliki jabatan fungsional Lektor Kepala, dengan
latar belakang pendidikan yang relevan dengan Program Pendidikan Profesi.
Minimal salah satu jenjang pendidikan dosen tersebut berlatar belakang
pendidikan bidang kependidikan.

b.      Memiliki rasio jumlah dosen dan mahasiswa memadai sesuai ketentuan Ditjen
Dikti.

c.       Memiliki perencanaan pengembangan SDM ke depan yang mendukung
keberlangsungan keberadaan program studi.

7.      Kualitas sarana dan prasarana dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi
yang dimiliki:

a.       Memiliki laboratorium micro teaching

b.      Memiliki laboratorium bidang studi

c.       Memiliki unit kerja yang melaksanakan program peningkatan dan
pengembangan pembelajaran (P3AI, PSB atau sejenisnya).

d.      Memiliki koleksi pustaka yang relevan, jumlah yang memadai dan mudah
diakses mahasiswa.

8.      Program Pengalaman Lapangan (PPL)

a.       Memiliki unit PPL yang berfungsi efektif

b.      Memiliki sekolah laboratorium (minimal memiliki perencanaan untuk mendirikan
sekolah laboratorium yang tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan)

c.       Memiliki jaringan kemitraan dengan sekolah-sekolah yang terakreditasi minimal
B dan dituangkan dalam nota kesepahaman. Jaringan tersebut dikelola dalam
kesatuan pengembangan bersama.

d.      Memiliki dan melaksanakan program penugasan dosen ke sekolah (PDS).

9.      Memiliki program penjaminan mutu yang berfungsi melaksanakan PPG sesuai
standar kompetensi lulusan.

10.  Mekanisme Pemberian Ijin Penyelenggaraan PPG melalui usulan seperti Program
Hibah Kompetisi (PHK).

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

Prinsip – prinsip Islam tentang Kedokteran

 A.     Sejarah Perkembangan Kedokteran Islam

    Menurut Ezzat Abouleish, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang surut, yaitu:

  •  Periode pertama

         Periode ini dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam ke dalam bahasa Arab(7 – 8M). Tokoh-tokohnya adalah Jurjis Ibn-Bakhtishliu, Yuhanna Ibn Masawaya, serta Hunain Ibn-Ishak

  • Periode kedua

           Pada periode ini (9 – 13M), dunia kedokteran Islam berkembang pesat diantaranya ditandai dengan didirikannya sejumlah RS Islam dan sekolah kedokteran Islam serta lahinya sejumlah tokoh kedokteran Islam terkemuka , diantaranya Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu-Rushd, Ibn Al-Nafis, dan Ibn Maimon.

  • Periode ketiga

            Ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnansi(perlahan surut dan mengalami kemunduran) seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan (setelah 13M).

B.     Rumah Sakit Islam

Rumah sakit terkemuka petama yang dibangun umat Islam diantaranya:

    1. RS Al-Nuri (1156M) di Damaskus
    2. RS Al-Adudi (981M) di Baghdad
    3. RS Al-Mansuri (1284M)
    4. RS Al-Qayrawan (830M) di Tunisia
    5. RS Marakesh (1190M) di Maroko

Karakteristik RSI di Arab pada era keemasan adalah sebagai berikut:

  • RS Islam melayani semua orang tanpa membeda- bedakan
  • Sudah menerapkan pemisahan bangsal
  • Memperhatikan kamar mandi dan pasokan air
  • Tidak sembarang dokter bisa berpraktik di RS Islam
  • RS Islam menjadi tempat multifungsi
  • RS Islam menyimpan data pasien dan rekan medisnya

Semua pelayanan di RS Islam dilakukan dengan hanya mengharap ridho Alloh. Persoalannya, adakah RS Islam di Indonesia yang meniru konsep tersebut sekarang ini?

C.     Kontribusi Dokter Muslim

Dokter memiliki kontribusi yang cukup memadai dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang:

  • Bakteriologi (Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri oleh Al-Razi dan ibnu sina),
  • Anesteshia (ilmu yang mempelajari tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika pembedaha/ pembiusan,  tokohnya adalah Ibnu Sina),
  • Surgery (Ilmu pembedahan, tokohnya adalahAl-Razi dan Abu al-Qasim),
  • Opthamology (Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak serta pendengaran, tokohnya adalah Ibnu Al-haytham dan juga Ammar bin Ali),
  • Psikoterapi (serangkaian metode dari ilmu psikologi untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang, tokohnya yaitu Al-Razi dan Ibnu sina).

D.    Tantangan Profesi Dokter

1.      Sumber Matapencaharian

2.      Tantangan Orientasi Keilmuan Dokter

E.     Etika Kedokteran

Menurut Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, seorang dokter muslim harus memiliki empat karakter utama, yakni iman, taqwa, bersifat amanah, dan berakhlaq mulia. Dan  juga harus mengikuti hal-hal yang bersifat sunnah, seperti menghindari hal yang meragukan aau tidak dipahami, respek terhadap kehidupan, menjaga lidah, bertindak benar, dan lain sebagainya.

Selain itu, juga harus berpegang teguh pada kaidah- kaidah, seperti:

1.      Kaidah Niatan

2.      Kaidah Kepastian (Qoidah al yaqin)

3.      Kaidah Kerugian (Qoidah al dharar)

4.      Kaidah Kesulitan / Kesukaran (Qoidah al Masyaqqat)

5.      Kaidah Kebiasaan (Qoidah al urf)

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

REVIEW JURNAL ASING LEARNERS’ ERRORS: SUPPORTING LEARNERS FOR PARTICIPATING IN MATHEMATICS’ CLASSROOM (INTERNATIONAL JOURNAL Of ACADEMIC RESEARCH Vol. 3. No.1. January, 2011, page 656-659)

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak.  Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika.  Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan.  Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) melaporkan bahwa rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (tingkat II SLTP) Indonesia jauh di bawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38 negara (TIMSS,1999).  Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika.

Dalam mempelajari sebuah konsep baru, siswa melakukan berbagai macam kesalahan. Berbagai kesalahan tersebut salah satunya adalah kurang atau bahkan salah dalam pemahaman konsep dasar. Mengingat matematika merupakan pelajaran yang tiap materinya saling berkaitan dan berkesinambungan antara materi satu dan yang lainnya, sehingga diperlukan pemahaman konsep dasar yang benar agar  dalam memahami konsep pada materi selanjutnya dapat dilakukan dengan mudah.

Zemelman, Daniels, & Hyde (1998) menyatakan bahwa “Without true understanding of the underlying concepts guarantees serious problems with learning other concepts” yang maksudnya tanpa pemahaman yang benar mengenai konsep yang mendasari sudah dipastikan akan ada masalah serius dalam mempelajari konsep-konsep lainnya.

Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real.  Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna.  Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.  Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna (Soedjadi, 2000; Price,1996; Zamroni, 2000). 

Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika  Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari.  Selain itu, perlu menerapkan kembali konsep matematika yang telah dimiliki anak pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang lain sangat penting dilakukan. 

Dewan Nasional Guru Matematika (2000) menyatakan bahwa tujuan utama dari sekolah menengah matematika adalah untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk merumuskan, membuat pendekatan dan memecahkan masalah melalui apa-apa yang telah mereka pelajari.

Untuk memproleh pemahaman konsep matematika yang benar, siswa perlu mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata sehingga ia akan mudah untuk mengingat konsep itu karena mengetahui manfaat  dan kegunaannaya. Tujuan utama pembelajaran matematika adalah untuk mengembangkan keterampilan analitis dan logis siswa secara umum ke bagian lain dari kehidupan (Sorensen, 2003). Menurut Singh (2004, hal.46) bahwa ” Matematika memberikan kita bantuan dan dukungan pada apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari “.

Artikel ini membahas mengenai bagaimana kesalahan pembelajar (dalam hal ini kesalahan siswa) dapat mempengaruhi partisipasinya dalam kelas matematika. Selain itu adanya metode Mealistic Mathematics Education yang memberikan kaitan antara materi dengan kehidupan sehari-hari diharapkan dapat meningkatkan partisipasi siswa sehingga siswa dapat memiliki konsep matematika yang benar. Artikel ini juga membahas apakah siswa yang berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran lebih baik daripada yang kurang berpartisispasi.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana hakikat belajar Matematika?

2.      Apa saja kesalahan pembelajar dalam proses pembelajaran Matematika

3.      Bagaimanakah keterkaitan kesalahan pembelajar dengsn metode RME (Realistic Mathematics Education)?

4.      Bagaimana pengaruh kesalahan pembelajar terhadap partisipasi siswa dalam kelas Matematika

C.     Tujuan Review Jurnal

1.      Tujuan umum dari review artikel ini adalah memaparkan bagaimana kesalahan pembelajar (siswa) dalam pembelajaran Matematika

2.      Tujuan khusus:

a.       Mengetahui hakikat belajar matematika

b.      Mengetahui kesalahan-kesalahan pembelajar dalam proses pembelajaran Matematika

c.       Mengetahui keterkaitan kesalahan pembelajar dengan metode RME

d.      Mengetahui tentang  bagaimana pengaruh kesalahan pembelajar terhadap partisipasi siswa dalam kelas Matematika

D.    Manfaat Review Jurnal

1.      Manfaat teoritis

Secara umum review jurnal ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pembelajaran matematika terutama dalam meningkatkan pemahaman konsep belajar matematika siswa. Secara khusus review ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada strategi pembelajaran matematika agar dapat melibatkan partisipasi siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tersampaikan secara tepat.

2.      Manfaat praktis

  • Bagi siswa

Kesalahan pembelajar dapat membuat siswa untuk lebih berpartisispasi dalam kelas sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman konsep matematika yang benar dan dapat membuat hubungan apa yang dipelajari dan realita dalam kehidupan nyata.

  • Bagi guru

Memberikan masukan kepada guru, khususnya guru matematika, bahwa dalam pembelajaran matematika haruslah kreatif dengan menggunakan metode-metode yang dapat membuat kaitan dengan kehidupan nyata dan melibatkan partisipasi aktif siswa sehingga belajar terasa bermakna dan materi pembelajaran tersampaikan dengan baik.

BAB II

RINGKASAN ISI ARTIKEL

 

Di Pakistan, Matematika merupakan mata pelajaran wajib di sekolah dari kelas 1 sampai kelas 10.  Menurut pandangan umum, siswa yang memiliki prestasi yang baik dalam Matematika juga akan memiliki prestasi yang baik dalam pelajaran lainnya. Pandangan ini menunjukkan bahwa matematika memiliki dampak besar pada pembelajaran mata pelajaran lain. Tujuan utama dari pengajaran matematika sekolah adalah untuk mengaktifkan siswa dalam penggunaan matematika di kehidupan nyata agar dapat berkontribusi secara aktif di dalam masyarakat. Sehingga dalam merancang kurikulum matematika sekolah, pembelajaran matematika harus berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Matematika  yang dipelajari pada tingkat ini menjadi dasar bagi matematika tingkat perguruan tinggi dan universitas. Zemelman, Daniels, & Hyde (1998) menyatakan bahwa Without true understanding of the underlying concepts guarantees serious problems with learning other concepts yang maksudnya tanpa pemahaman yang benar mengenai konsep yang mendasari sudah dipastikan akan ada masalah serius dalam mempelajari konsep-konsep lainnya. Bahkan setelah menyelesaikan pendidikan sekolah, banyak siswa yang tidak mengerti mengapa mereka mempelajari geometri, trigonometri, teorema-teorema yang lain dalam matematika. Hal ini merupakan sebuah fakta bahwa Matematika bukanlah kumpulan beberapa rumus dan definisi, yang hanya dihafal dan digunakan dalam ujian.

Selama program pelatihan guru, mereka mempelajari metode pengajaran matematika yang berbeda dan diharapkan bahwa, untuk mengajar matematika yang lebih baik guru harus menerapkan metode belajar dan teknik secara efektif dalam situasi yang sebenarnya. Dalam buku teks matematika, sebelum latihan ada beberapa teori yang memberikan definisi dan langkah-langkah prosedural untuk memecahkan pertanyaan dan beberapa contoh terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul dalam latihan mendatang. Hal ini sudah menjadi acuan bahwa guru mengabaikan teori ini dan contoh-contoh dan bergerak langsung ke latihan. Untuk pertanyaan, siswa mencoba untuk mencocokkan jawaban dengan jawaban yang diberikan pada akhir buku yang bertentangan dengan semangat mengajar matematika.

Dewan Nasional Guru Matematika (2000) menyatakan bahwa tujuan utama dari sekolah menengah matematika adalah untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk merumuskan, membuat pendekatan dan memecahkan masalah melalui apa-apa yang telah mereka pelajari. Tujuan utama pembelajaran matematika adalah untuk mengembangkan keterampilan analitis dan logis siswa secara umum ke bagian lain dari kehidupan (Sorensen, 2003). Menurut Singh (2004, hal.46) bahwa ” Matematika memberikan kita bantuan dan dukungan pada apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari “.

Matematika dalam kurikulum sekolah memiliki aspek yang berbeda dalam mengembangkan keterampilan kognitif untuk menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Matematika dalam panduan kurikulum sekolah ke 1 sampai 5 Menengah Kurikulum (Departemen Pendidikan, Hong Kong, 1993) menyatakan: Ada argumen kecil di posisi Matematika sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Memahami matematika merupakan bagian penting dari pemahaman dunia kita. Pokok persoalan dan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan, perdagangan dan teknologi itu penting jika murid  memahami dan menghargai hubungan dan susunannya baik jumlah dan ruang dalam kehidupan sehari-hari mereka dan mereka dapat mengekspresikan dengan jelas dan ringkas. Ini juga akan membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan penalaran mereka sehingga mereka akan berpikir lebih logis dan independen dalam membuat keputusan rasional.

Komite Pengembangan Kurikulum Hongkong (1999) menjelaskan tujuan pengajaran matematika ditingkat sekolah menengah adalah untuk mengembangkan:

  • Kemampuan untuk mengonsep, bertanya, berpendapat dan berkomunikasi secara matematis, dan menggunakan matematika untuk merumuskan dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks matematika.
  • Kemampuan untuk memanipulasi angka, simbol dan objek-objek matematika lainnya.
  • Pengertian angka, simbol, ruang dan pengukuran serta kemampuan dalam
    menghargai struktur dan pola.
  • Sikap positif terhadap matematika dan kemampuan dalam mengapresiasi sifat estetika dan budaya matematika.

Tujuan utama pengajaran matematika di tingkat sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa dalam mengatasi masalah di kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata siswa mendapat masalah yang berbeda dan setiap masalah diperlukan strategi yang berbeda. Nonesuch (2006, p.51) mengatakan bahwa “Masalah dari kehidupan nyata tidak cocok dengan kelas 50-menit, dan tidak membangun ketrampilan matematika dan konsep-konsep sistematis. Karena mereka membutuhkan pemikiran yang berbeda dan berbagai macam keterampilan matematika”. Kurikulum Nasional untuk Matematika I-XII (2006) menyatakan bahwa “Studi Matematika melengkapi siswa dengan pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan pikiran yang penting bagi keberhasilan dan penghargaan partisipasi dalam masyarakat (masyarakat berbasis teknologi dan informasi )”.

Di Pakistan, Buku teks Matematika (kelas 9) yang terdiri dari sembilan bab. Bab 3 membahas Logaritma. Di tingkat sekolah banyak siswa merasa bermasalah ketika berhadapan dengan logaritma. Siswa ngeri dengan beberapa aturan tanpa pemahaman yang benar. Perkalian adalah cara pintas untuk penambahan. Mengingat bahwa 3×5 berarti 5 + 5 + 5. Eksponen (perpangkatan) merupakan jalan pintas perkalian, dan  berarti 4x4x4 . Logaritma adalah jalan pintas untuk eksponen.

Logaritma digunakan dalam mata pelajaran lain untuk tujuan yang berbeda. Sebuah logaritma dapat memiliki nilai positif sebagai nilai pokok. Nilai pokok-10, biasa disebut nilai pokok “umum”, dan biasanya ditulis sebagai “log (x)”. Misalnya, pH (ukuran keasaman suatu zat atau alkalinitas), desibel (ukuran intensitas suara), dan skala Richter (ukuran intensitas gempa bumi) semua melibatkan log dengan  nilai pokok-10 log. Jika log tidak memiliki nilai pokok yang tertulis, biasanya dianggap bahwa nilai dasarnya adalah 10. Log penting lainnya adalah “bilangan natural” atau nilai pokok-e, log, dinotasikan sebagai “ln (x)”.

Ketika para guru mengajar tidak dengan cara tradisional dan secara aktif terlibat dengan ide-ide pelajar dalam rangka mengembangkan hubungan konseptual, mendorong diskusi dan mengembangkan penalaran matematika, mereka akan sering dihadapkan dengan berbagai kontribusi pelajar(Brodie, 2008). Sedangkan selama peserta didik berkontribusi dalam proses pembelajaran, banyak jenis kesalahan terjadi karena minimnya pengetahuan dan kurangnya kemampuan dalam menciptakan hubungan antara pengetahuan sebelumnya dan situasi sekarang. Brodie, (2008) mengembangkan sebuah skema untuk mengkategorikan kontribusi pembelajar:

Kesalahan dasar (basic error)

Sebuah kesalahan yang tidak diharapkan pada tingkat kelas tertentu menunjukkan bahwa pelajar tersebut tidak berusaha dengan konsep bahwa tugas tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan , tapi kadang dengan konsep lain yang diperlukan untuk menyelesaikan  telah diajarkan di tahun-tahun sebelumnya.

Kesalahan yang tepat (appropriate error)

Kontribusi yang salah pada tingkat kelas tertentu dalam kaitannya dengan tugas

Kehilangan informasi (missing information)

Benar, tetapi tidak lengkap dan terjadi ketika pelajar menyajikan beberapa informasi yang diperlukan oleh tugas, tapi tidak semuanya.

Pengetahuan sebagian (partial insight)

Pelajar bergulat dengan id penting yang tidak cukup lengkap dan benar, tetapi menunjukkan wawasan tugas

Lengkap (complete correct)

Melengkapi kemampuan menjawab latihan atau pertanyaan

Diluar tugas (beyond task)

Berhubungan dengan tugas atau topik pelajaran, tetapi lebih dari tugas mendesak dan / atau membuat hubungan yang menarik antara ide-ide

Sampel untuk penelitian pada artikel ini adalah kelas 9 yang terdiri 27 siswa dari Model College Islamabad. Peneliti memeriksa hasil matematika waktu sampel masih di kelas 8, kelulusan kelas 8 adalah 40%. Dari 27 siswa, 5 siswa memperoleh 100%
tanda sedangkan 2 siswa memperoleh 47 tanda, siswa lainnya terletak dalam kisaran 66 -98 tanda. Rancangan studi kasus satu-shot digunakan untuk penelitian ini. “Studi kasus satu-shot melibatkan satu kelompok yang terkena pengobatan dan dari post diuji “(Gay, 2005).

Bab yang berjudul “Logaritma” dipilih untuk penelitian ini. Peneliti (penulis pertama) mengajarkan bab yang dipilih kepada sampel siswa. Logaritma sebagai sebuah konsep baru untuk siswa, awalnya mereka menghadapi masalah yang berbeda dalam logaritma. Notasi ilmiah dijelaskan di awal yang memberikan dasar untuk memahami ide-ide lain dari logaritma. Siswa diajarkan dengan cara tradisional. Setelah memilih kelas untuk penelitian ini, pendekatan pengajaran berubah. Partisipasi siswa di kelas dianggap penting. Setelah menjelaskan ide dasar dan kemungkinan cara untuk memecahkan pertanyaan dari bab yang dipilih, peneliti memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, menanyakan pertanyaan dan menjelaskan apa yang telah mereka mengerti tentang topik saat ini.

Sebagai tanggapan, banyak siswa meningkatkan pertanyaan yang membingungkan mereka. Setelah memecahkan pertanyaan di papan tulis dan menjelaskan setiap langkah, peneliti meminta para siswa, melihat seluruh pertanyaan di papan tulis sebelum memecahkannya pada notebook dan kemudian melakukan pertanyaan selanjutnya dengan  pola yang sama, beberapa siswa mengajukan pertanyaan dengan cara yang salah dan beberapa siswa melakukan beberapa langkah salah. Peneliti menunjuk kesalahan dan kembali menjelaskan seluruh proses pertanyaan. Sebagian besar siswa melakukan pertanyaan dengan cara yang benar. Pelaksanaan terakhir bagian ini terdiri atas pertanyaan seperti penggunaan konsep yang telah dipelajari. Saat melakukan pertanyaan siswa melakukan berbagai jenis kesalahan misalkan dalam menulis atau memaparkan notasi perpangkatan, menemukan hasil, dan lain sebagainya.

Tes yang dikembangkan ada sepuluh pertanyaan pilihan ganda (MCQs) (Salah satu tanda untuk masing-masing) dalam bagian A, lima pertanyaan singkat (Dua tanda untuk masing-masing) dalam bagian B dan dua pertanyaan uraian (Lima tanda untuk   masing-masing) dalam bagian C.

Pada postes, bagian A MCQs terdiri, 15 siswa diperoleh seratus persen
tanda. Pada bagian B, 12 siswa mencetak seratus tanda persen dan dalam bagian C, 11 siswa mencetak ratus tanda persen, pada bagian-C, pertanyaan lebih komprehensif dan rinci, yang menuntut lebih banyak keahlian dan subjek pengetahuan. Peneliti mengamati siswa yang berpartisipasi aktif dalam kelas menunjukkan hasil yang lebih baik.

Hasil yang diperoleh dari postes menunjukkan tanda maksimum diperoleh pada setiap bagian dan jumlah siswa yang mendapat skor maksimum. Tidak ada pretest, itu berarti tidak ada catatan terhadap postes yang bisa dibandingkan. Selama mengajar, peneliti sebagai guru matematika mengamati partisipasi siswa pada setiap tahap selama percobaan. Siswa berpartisipasi aktif memainkan peran utama dalam memahami topik yang sulit.

Sehingga kesimpulan dari artikel penelitian ini adalah partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar merupakan elemen penting. Di kelas Pakistan, pengajaran matematika terjadi secara tertutup. Guru mengikuti strategi yang benar dan juga salah untuk memecahkan persoalan. Siswa menempatkan upaya mereka untuk jawaban yang tepat tanpa pemahaman yang benar.

Belajar tanpa memahami mungkin dapat memperoleh hasil yang baik di tingkat sekolah tetapi tidak baik untuk belajar masa depan. Ketika siswa bertemu ide baru dalam matematika, ide itu akan mambuat beberapa masalah bagi mereka. Jika siswa berpartisipasi dalam kelas, mereka mungkin menutupi kesulitan ini dengan cara yang lebih baik. Sehingga partisipasi siswa dan kontribusi mereka dalam ruang kelas memberikan hasil yang lebih baik.

Dalam penelitian ini juga dicantumkan beberapa temuan, diantaranya: 

1.      Pertanyaan pilihan ganda membantu siswa dalam memaksimalkan total skor.

2.      Sebelumnya pengetahuan konsep matematika membantu untuk belajar lebih lanjut.

3.      Siswa dapat mengatasi berbagai jenis kesalahan melalui partisipasi aktif dalam kelas.

4.      Partisipasi siswa membantu mereka dalam menjelaskan ide-ide dasar dalam matematika.

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

A.     Hakikat Belajar Matematika

Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Peran guru hanya sebagai fasilitator, bukan sumber utama pembelajaran, hal ini bukan berarti peran guru berkurang dalam proses belajar  mengajar tetapi harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dalam pembelajaran (Mulyasa.E, 2005).

Sedangkan belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan agar terjadi perubahan prilaku seseorang. Apabila seseorang telah melakukan suatu proses kegiatan tapi pada akhirnya tidak terjadi perubahan prilaku, maka dikatakan tidak terjadi proses belajar dalam diri orang itu.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek yaitu: belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa disaat pembelajaran sedang berlangsung (Jihad, 2008:11). Dengan kata lain pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antara peserta didik dalam rangka perubahan sikap (Suherman,1992)

Menurut Rogers, yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:

1.      Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.

2.     Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa

3.     Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

4.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dalam mengajarkan matematika, guru harus memahami bahwa kemampuan setiap siswa berbeda-beda, serta tidak semua siswa menyenangi mata pelajaran matematika. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif. Yakni kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata. Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama pentingnya.

Berikut ini penjabaran pembelajaran yang ditekankan pada konsep-konsep matematika:

1.      Penanaman konsep dasar (penanaman konsep)

Penanaman konsep yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Kita dapat mengetahui konsep ini dari isi kurikulum, yang cirikan dengan kata mengenal. Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkrit dengan konsep baru matematika yang abstrak. Dalam kegiatan pembelajaran konsep dasar ini, media atau alat peraga diharapkan dapat digunakan untuk membantu kemampuan pola pikir siswa.

2.      Pemahaman konsep

Pemahaman konsep yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep terdiri dari atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, disemester atau kelas sebelumnya.

3.      Pembinaan ketrampilan

Pembinaan ketrampilan yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan ketrampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan ketrampilan juga teratas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pembinaan ketrampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, disemester atau kelas sebelumnya.

B.  Kesalahan Pembelajar dalam Pembelajaran Matematika

Prestasi siswa dalam belajar matematika memang masih rendah. Beberapa laporan menyebutkan, faktor penyebabnya antara lain kurangnya kualitas materi pembelajaran, metode pembelajaran yang mekanistik, model pembelajaran yang monoton maupun sulitnya konsep- konsep matematika untuk dipahami. Salah satu penyebab kegagalan dalam pembelajaran matematika adalah siswa tidak paham konsep-konsep matematika atau siswa salah dalam memahami konsep-konsep matematika. Siswa yang menguasai konsep matematika, dengan mudah memecahkan soal-soal matematika.

Menurut Slavin dalam Unggul Sudarmo (2005:66) konsep merupakan abstraksi dari pemikiran yang merupakan generalisasi dari sesuatu yang khusus atau spesifik. Dengan konsep seseorang mampu menggolong-golongkan sesuatu sesuai dengan pengetahuannya.

Menurut Bruner dalam Mulyani Sumantri dan Johan Permana(2001:42) menyatakan bahwa konsep mempunyai lima elemen, yaitu:

a.       Nama.

b.      Contoh-contoh (positif dan negatif).

c.       Atribut(esensial dan non esensial).

d.      Nilai-nilai atribut.

e.       Aturan.

Seseorang dinyatakan mempunyai penguasaan konsep jika individu dapat menyebutkan persamaan-persamaan, perbedaan-perbedaan dan mampu menyebutkan contoh yang dapat menyajikan informasi tentang karakteristik dan atribut tentang sesuatu konsep  dan merumuskan kembali konsep itu.

Penguasaan kosep pada diri siswa tidak dapat berlangsung secara bersamaan. Penguasaan konsep siswa akan berbeda-beda pada setiap siswa karena adanya beberapa faktor, salah satu faktor itu adalah keadaan awal atau input siswa.  Winkel (2005:151) menggambarkan bahwa :”Keadaan awal yaitu keadaan yang terdapat sebelum proses belajar mengajar dimulai tetapi dapat berperanan dalam hal itu”.

Sering ditemukan dalam kegiatan pembelajaran, siswa salah dalam memahami konsep matematika, sehingga salah dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Kesalahan konsep yang dialami siswa sebagian besar dibawa dari jenjang pendidikan sebelumnya.

Kesalahan konsep suatu pengetahuan saat disampaikan pada salah satu jenjang pendidikan, bisa berakibat kesalahan pengertian dasar yang berkesinambungan hingga ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, termasuk matematika. Ini karena matematika adalah materi pembelajaran yang saling berkaitan dan berkesinambungan. Sehingga untuk mempelajari salah satu topik di tingkat lanjutan harus memiliki pengetahuan dasar atau pengetahuan prasyarat terlebih dahulu. Setelah mengetahui hubungan pokok-pokok bahasan dalam mata pelajaran matematika, siswa dengan mudah mempelajari pokok bahasan lain yang lebih tinggi. Akhirnya, siswa tidak akan kesulitan memahami atau menerima pokok bahasan baru. Yang lebih tragis adalah bila kesalahan penanaman konsep dari suatu pokok bahasan terjadi pada jenjang pendidikan yang lebih rendah. Jika itu terjadi, bisa dipastikan seorang siswa akan memperoleh pengertian-pengertian yang salah dan berkelanjutan.

Kesalahan konsep dalam pembelajaran matematika dapat terjadi dari dua pihak, yakni guru maupun siswa. Kesalahan dari pihak guru antara lain, guru matematika bukan guru mata pelajaran melainkan guru kelas, tidak berlatar belakang pendidikan matematika, kurang menguasai inti materi dari pokok bahasan yang diajarkan, kurang mengetahui atau menguasai materi-materi.

Kemungkinan kesalahan konsep yang disebabkan oleh siswa antara lain, siswa salah menerima terhadap pengertian dasar atau konsep dari suatu pokok bahasan yang disajikan oleh guru., kurang berminat terhadap pelajaran matematika, cenderung hanya menghafal, tidak berusaha memahami rumus-rumus maupun con toh penyelesaian soal yang ada, bawaan siswa itu sendiri baik dari sekolah ataupun dari kelas sebelumnya.

Untuk menghindari kesalahan konsep yang disebabkan dari pihak guru maupun siswa, berikut ini beberapa alternatif pemecahannya dari dua pihak secara bersamaan. Pertama, usahakan guru matematika adalah guru mata pelajaran bukan guru kelas untuk semua jenjang pendidikan. Ini banyak dijumpai pada sekolah-sekolah tingkat SD atau MI yang menggunakan pola guru kelas. Kedua, penguasaan inti materi dari tiap-tiap pokok bahasan matematika perlu dimiliki oleh para guru matematika. Hal ini dimaksudkan agar dalam menyajikan materi, guru dapat membedakan antara materi pokok dengan materi tambahan atau materi penunjang. Dengan demikian, tidak terjadi pengulangan materi yang bisa membuat siswa bingung. Ketiga, perlu memotivasi siswa dalam belajar matematika untuk menghindari siswa dari kesalahan konsep. Jika siswa belajar giat dan penuh gairah, ia akan berusaha memahami dengan sungguh-sungguh dan mengembangkannya melalui latihan menyelesaikan soal-soal yang bervariasi.

Selain dikarenakan kesalahan dalam pemahaman konsep, kesalahan pembelajaran juga dikarenakan kurang bermaknanya apa yang siswa pelajari karena tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata sehingga siswa tidak mengerti hubungan atau korelasi apa yang ia pelajari dengan kehidupan nyata. Bahkan pada beberapa siswa hanya menghafal apa yang dipelajari tanpa pemahaman sehingga ketika materi yang dipelajari sudah berbeda, ia akan mudah lupa dengan apa yang penah dipelajari sebelumnya.

C.     Keterkaitan Kesalahan Pembelajar dengan Metode RME

Berdasarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan pembelajar/ siswa berkenaan dengan kurangnya pemahaman konsep dan kurang bermaknanya apa yang dipelajari karena tidak berkaitan dengan kehidupan nyata, sehingga metode belajar RME (Realistic Mathematics Education) yang menggunakan pendekatan realistic dinilai dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.

Pengertian pendekatan realistik menurut Sofyan, (2007: 28) “sebuah pendekatan pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri”. Menurut Sudarman Benu, (2000: 405) “pendekatan realistik adalah pendekatan yang menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam belajar matematika”.

Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari, maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran matematika realistik.

RME  adalah pendekatan pembelajaran yang bertolak dari hal-hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan keterampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini  peran guru tak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan ‘reasoning-nya’, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain. Secara umum, teori RME terdiri dari  lima karakteristik yaitu:

1)         penggunaan real konteks sebagai titik tolak belajar matematika

2)         penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus.

3)         mengaitkan sesama topik dalam matematika

4)         penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika

5)         menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa.

Namun demikian, hendaknya guru  juga memperhatikan 3 aspek penilaian yang harus dicapai dalam pembelajaran, yaitu aspek pemahaman konsep, aspek penalaran dan komunikasi, serta aspek pemecahan masalah. Dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut maka guru dapat mengembangkan pendekatan atau model dalam proses pembelajaran serta media yang tepat dalam mendukung belajar peserta didik dalam kelas. Dengan suasana yang menyenangkan diharapkan peserta didik tidak jenuh lagi dalam belajar matematika, namun sebaliknya,  diharapkan peserta didik dapat termotivasi untuk belajar dengan menyenangkan.

Dengan mengetahui manfaat atau kegunaan dari apa yang dipelajari, siswa akan dengan mudah menerima konsep matematika yang diajarkan oleh guru dan membuat kaitan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata.

D.    Pengaruh Kesalahan Pembelajar terhadap Partisipasi Siswa dalam Kelas Matematika

Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “participation” yang berarti pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Adapun konsep partisipasi menurut Ensiklopedi pendidikan adalah sebagai berikut: Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokrasi dimana orang     diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijaksanaan

Menurut Tannenbaun dan Hahn (1958:58), partisipasi merupakan suatu tingkat sejauh mana peran anggota melibatkan diri di dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.  Sedangkan menurut Dusseldorp (1981: 33), partisipasi diartikan sebagai kegiatan atau keadaan mengambil bagian dalam suatu aktivitas untuk mencapai suatu kemanfaatan secara optimal.

Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan seseorang baik pikiran maupun tenaga untuk memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Sedangkan secara khusus, partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi serta fisik peserta didik dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.

Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa dalam partisipasi terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

1.      Keterlibatan peserta didik dalam segala kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.

2.      Kemauan peserta didik untuk merespon dan berkreasi dalam kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengnajar.

Partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncakan bisa dicapai semaksimal mungkin.

Tidak ada proses belajar tanpa partisipasi dan keaktifan anak didik yang belajar. Setiap anak didik pasti aktif dalam belajar, hanya yang membedakannya adalah kadar/bobot keaktifan anak didik dalam belajar. Ada keaktifan itu dengan kategori rendah, sedang dan tinggi. Disini perlu kreatifitas guru dalam mengajar agar siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Metode pembelajaran yang bersifat partisipatoris yang dilakukan oleh guru akan membawa siswa dalam situasi  yang lebih kondusif karena siswa lebih berperan serta, lebih terbuka, dan sensitive dalam pembelajaran. Dengan demikian siswa lebih mudah menerima ide-ide baru dan lebih kreatif sekaligus mengembangkan hubungan yang lebih interpersonal (manusiawi) sehingga inovasi yang timbul dari dalam diri siswa lebih mudah diterima. Sistem ini hanya dapat diikuti oleh siswa yang mau bekerja  sama dan bekerja keras sekaligus mau mandiri sebelum mereka melakukan kerja kelompok. Oleh karena itu, siswa lebih bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri karena sebelumnya mereka telah memiliki daya motivasi untuk belajar (Sukidin, Basrowi dan Suranto, 2002: 159).

Berdasarkan kesalahan-kesalahan pembelajar yang telah dilakukan siswa, sehingga dibutuhkan partisipasi aktif dari siswa agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang kembali dan bisa diminimalkan. Terbukti dari penelitian di Pakistan di atas, dengan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan melibatkan peran aktif siswa pemahaman konsep dapat maksimal karena kesalahan pembelajar dalam pembelajaran justru memacu pembelajar untuk berpartisipasi aktif.

 

BAB IV

PENUTUP

 

A.     Simpulan

Dari penjelasan review jurnal diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa:

1.    Hakikat belajar matematika adalah penalaran deduktif dan induktif. Deduktif berarti  kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Induktif berarti pembelajaran dan pemahaman konsep melalui pengalaman peristiwa nyata

2. Kesalahan pembelajar dapat terjadi karena kurang atau bahkan salah dalam memahami konsep dasar, serta kurangnya kaitan antara materi yang diperoleh dengan penerapan atau manfaatnya dengan kehidupan nyata.

3. Realistic Mathematics Education maerupakan metode yang dinilai cukup efektif untuk memberikan kaitan antara materi matematika dan aplikasinya dalam kehidupan nyata sehingga siswa tidak akan mudah lupa.

4. Adanya kesalahan dalam pembelajaran dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran matematika sehingga dapat memahami konsep dengan benar.

B.     Implikasi

 Dari kesimpulan diatas, maka dapat di ambil implikasi bahwa penerapan metode pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dapat mengurangi kesalahan pembelajar yang fatal mengenai konsep dasar. Salah satunya adalah dengan metode atau pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

C.     Saran

Berdasarkan  hasil review buku ini dapat diajukan beberapa saran. Saran tersebut ditujukan kepada mahasiswa dan peneliti berikutnya.

a.       Bagi Mahasiswa

      Agar setiap mahasiswa dapat berperan aktif dalam melakukan suatu penelitian tentang kesalahan-kesalahan pembelajar dan solusi untuk mengatasinya yang lain serta menjadikan review jurnal ini sebagai referensi untuk menentukan sumber pengetahuan dan pendekatan ilmiah yang akan digunakan.

b.      Bagi guru

Dengan review ini, diharapkan para guru dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif, efektif dan menyenangkan seperti RME yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari- hari agar pembelajaran matematika dapat lebih bermakna.

c.       Bagi Peneliti Berikutnya

Review jurnal asing ini masih jauh dari kesempurnaan, maka sebaiknya dilakukan review lebih lanjut sehingga dapat melengkapi kekurangan yang terdapat dalam review jurnal ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Jihad, Asep. 2008. Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sadily, Hasan dan John M.Echols, 1995. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Caray. 2008. “Pembelajaran Matematika Realistik (RME)” dalam http://caray.blogspot.com/2008/11/pendekatan-matematika-realistik.html. diakses tanggal 17 April 2011

Hastuti Muljono. 2011. “Kesalahan Konsep Penyebab Kegagalan Pembelajaran Matematika” dalam http://hastuti105.multiply.com/journal/item/16/Kesalahan_Konsep_Penyebab_Kegagalan_Pembelajaran_Matematika. diakses tanggal 16 April 2011.

Hidayat, Yayan. 2011.” Kesalahan Konsep pada Pembelajaran Matematika” dalam http://nurmanspd.wordpress.com/2010/12/26/kesalahan-konsep-pada-pembelajaran-matematika/ diakses tanggal 16 April 2011.

Zaenuri. 2007. “Pembelajaran Matematika Realistik(RME)” dalam http://zainurie.wordpress.com/2007/04/13/pembelajaran-matematika-realistik-rme/ diakses tanggal 16 April 2011.

http://www.canboyz.co.cc/2010/05/pengertian-definisi-partisipasi.html diakses tanggal 19 April 2011.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

Manajemen Guru dan Karyawan

Proses manajemen guru dan karyawan terdiri dari 8 tahap :

  1. Perencanaan
  2. Penarikan
  3. Seleksi
  4. Promosi dan Demosi
  5. Penilaian dan Evaluasi prestasi
  6. Kesejahteraan
  7. Pelatihan dan Pengembangan
  8. Pemberhentian atau Pensiun

1.      PERENCANAAN

Perencanaa guru perlu dilakukan setelah lembaga pendidikan merumuskan visi, misi, dan kurikulum pendidikan.

Hal ini untuk menjamin bahwa kurikulum yg telah disusun dilaksanakan oleh orang yg tepat dlm rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan untuk mewujudkan visi dan misi yg telah dirumuskan.

Sebagai tenaga profesional guru dituntut mempunyai kemampuan tertentu (10 kemampuan dasar)

  1. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
  2. Pengelolaan program belajar mengajar.
  3. Pengelolaan kelas.
  4. Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
  5. Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
  6. Pengelolaan interaksi belajar mengajar.
  7. Penilaian prestasi siswa.
  8. Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.
  9. Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
  10. Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan.

Dari tuntutan kemampuan tersebut rekruitmen guru harus mempunyai latar belakang pendidikan atau keguruan, krn guru tdk sekedar mengajar, tp jg sbg pendidik dan pembimbing siswa dan jg sbg pengembang kurikulum.

2.      PENARIKAN / REKRUITMEN

Rekruitmen calon guru harus didasarkan atas hasil seleksi yang mengutamakan mutu calon yang dibuktikan oleh skor tes seleksi dg menggunakan perangkat instrumen yang standar dan teruji serta indeks prestasinya di LPTK.Sebagian besar guru di Indonesia adalah pegawai negri sipil (PNS). Pegawai negri adalah setiap warga negara RI yg telah memenuhi syarat yg ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (ps.1 UU No.43 Th.1999).

Pegawai negeri terdiri dari : PNS,  anggota TNI, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.PNS terdiri dari : PNS pusat (gaji dibebankan pd APBN) dan PNS daerah (gaji dibebankan APBD).

Seorang diangkat sebagai guru dg status PNS apabila ada formasi yg ditetapkan setiap tahun anggaran dan memenuhi syarat-syarat yg ditentukan dan melalui prosedur yg telah ditetapkan pemerintah.

Penarikan guru saat ini ditangani oleh pemerintah DATI II. Seorang yg berlatar belakang S1 akan diangkat sbg PNS golongan IIIA, berlatar belakang D1 diangkat dg golongan IIA,  DII diangkat dg golongan IIB, DIII diangkat dg golongan IIC.

Guru sbg tenaga profesional atau fungsional setelah pengangkatan pertama yg lebih menentukan adalah jabatan fungsionalnya, artinya golongan dan pangkat itu akan mengikuti jabatan yang disandangnya. Jabatan guru ini diatur dalam SK Menpan No.26 Tahun 1989.

3.      SELEKSI DAN PENEMPATAN

            Seleksi hanya diperuntukkan bagi pelamar yg memenuhi syarat yg telah ditentukan dg materi yaitu test kompetensi dan psikotes.

Setelah selesai calon guru dan karyawan akan ditempatkan sesuai formasi yg ada dan latar belakang pendidikan yg dimiliki.

Untuk mendapatkan guru yg berkualitas seleksi seharusnya tdk saja berdasarkan nilai saat test baik kompetensi maupun psikotes, tp perlu dilihat indeks prestasi selama menempuhpendidikan pra jabatan, kegiatan organisasi, serta kecakapan dan kemampuan dibidangnya.

4.      PROMOSI DAN DEMOSI

            Sbg penghargaan thd prestasi pegawai atau guru diberikan promosi atau kenaikan pangkat atau jabatan. Kenaikan pangkat reguler diberikan kpd PNS yg: tdk menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu, melaksanakan tugas belajar belajar dan sebelumnya tdk menduduki jabatan  struktural dan fungsional tertentu, dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh di luar instansi induk dan tidak menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu.

Kenaikan pangkat ini diberikan kpd pegawai yg mempunyai masa kerja minimal 4 tahun. Guru sbg tenaga profesional dlm memberikan penghargaan atas pengabdian dan prestasinya Pemerintah mengatur dg SK Menpan No.26 Tahun 1989.

Kenaikan jabatan guru bukan bedasarkan masa kerja tp berdasar angka kredit yg diperoleh guru,jd tdk harus menunggu 4 thn seperti pegawai biasa.

Unsur-unsur yg dinilai dlm memberikan angka kredit : Unsur utama (pendidikan, proses belajar mengajar, pengembangan profesi), unsur penunjang (pengabdian kpd masyarakat, pendukung pendidikan).

Setiap guru naik jabatannya akan diikuti oleh kenaikan pangkat dan golongan.

Tingkat jabatan guru

  1. Guru Pratama                : golongan II A
  2. Guru Pratama Tk I         : golongan II B
  3. Guru Muda                     : golongan II C
  4. Guru Muda Tk I              : golongan  II D
  5. Guru Madya                   : golongan III A
  6. Guru Madya Tk I            : golongan III B
  7. Guru Dewasa                : golongan III C
  8. Guru Dewasa Tk I         : golongan III D
  9. Guru Pembina               : golongan IV A
  10. Guru Pembina Tk I        : golongan IV B
  11. Guru Utama Muda         : golongan IV C
  12. Guru Utama Madya       : golongan IV D
  13. Guru Utama                  : golongan IV E

Di samping promosi pegawai atau guru dpt dikenakan demosi. Demosi diberikan kpd pegawai yg tdk menunjukkan prestasi kerja seperti yg diharapkan atau melakukan pelanggaran thdp aturan disiplin pegawai negeri dgn hukuman minimal sedang sampai hukuman berat.

Pemberian hukuman demosi ini diberikan setelah terlebih dahulu diberikan hukuman ringan secara bertahap dan tidak menunjukkan perubahan.

5.      PENILAIAN DAN EVALUASI

Tujuan Penilaian

•          Memperoleh bahan-bahan pertimbangan yang obyektif dalam pembinaan pegawai negeri sipil (pasal 2 PP No. 10 Tahun 1979)

•         Sebagai pertimbangan dalam memberikan kenaikan jabatan atau pangkat pegawai.

Unsur-unsur yang Dinilai

- Kesetiaan

- Prestasi kerja

- Tanggung jawab

- Ketaatan

- Kejujuran

- Kerja sama

- Prakarsa

- Kepemimpinan (minimal pegawai yang memiliki pangkat atau golongan II A dan memangku jabatan struktural)

Nilai Pelaksanaan Pekerjaan

* Amat Baik               : 91-100

* Baik                        : 76-90

* Cukup                     : 61-75

* Sedang                    : 51-74

* Kurang                    : kurang dari 50

Evaluasi prestasi guru dapat dilaksanakan baik secara formal maupun informal.

Evaluasi terhadap guru juga dapat dilakukan oleh siswa meskipun tidak mempengaruhi prestasi guru.

Evaluasi harus dilakukan secara adil untuk meningkatkan prestasi dan profesionalisme guru.

6.      KESEJAHTERAAN

Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh pekerja sebagai balas jasa atas kerja mereka (T. Hani Handoko, 1994).

Di dalam UU No.8 Tahun 1974 dan UU No.43 tahun 1999 yang berkaitan dengan kompensasi adalah sebagai berikut:

  1. setiap pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang adil dan layak sesuai dengan     beban pekerjaan dan tanggung jawabnya.
  2. Gaji yang diterima oleh pegawai negeri harus mampu memacu produktifitas dan menjamin kesejahteraannya.
  3. Berhak atas cuti
  4. Berhak memperoleh perawatan apabila ditimpa suatu kecelakaan dalam dan karena menjalankan tugasnya.
  5. Berhak memperoleh tunjangan cacat jasmani maupun rohani
  6. Pegawai negeri yang tewas, keluarganya berhak memperoleh uang duka.
  7. Berhak atas uang pensiun

Aspek yang perlu diperhatikan dalam mengukur kesejahteraan guru adalah jumlah gaji yang diterima, kelancaran dalam kenaikan jabatan, rasa aman dalam menjalankan tugas,kondisi kerja, kepastian karir sebagai guru dan hubungan antar pribadi.

Namun ternyata gaji yang diperoleh guru masih minim dibandingkan dengan pekerjaan lain yang tidak membutuhkan pengabdian seperti guru. Disamping gaji, ada permasalahan yang membedakan guru dengan pekerjaan lainnya yaitu cuti dan pensiun. Khusus guru tidak boleh mengambil cuti tahunan yang jumlahnya 12 hari setiap tahun. Guru akan pensiun pada usia 60 tahun, sedangkan pegawai akan pensiun pada usia 56 tahun.

7.      PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN

Tujuan Pelatihan untuk menjaga dan meningkatkan prestasi kerja saat ini. Sedangkan tujuan  pengembangan untuk meningkatkan saat ini dan masa datang.(Mafduh, M.H. 1997)

Langkah-langkah Menyelenggarakan Pelatihan dan Pengembangan

1. Analisis Kebutuhan Pelatihan

- Evaluasi kerja tiap pegawai

- Analisis persyaratan kerja

- Analisis efektifitas organisasi

- Survey sumber daya manusia

2. Menetapkan tujuan pelatihan dan pengembangan

Tujuan pelatihan dan pengembangan adalah dasar tahap selanjutnya yaitu merencanakan dan mengembangkan program pelatihan, menjalankan pelatihan, evaluasi pelatihan dan modifikasi pelatihan.

8.      PEMBERHENTIAN DAN PENSIUN

Pemberhentian guru dapat saja terjadi karena pengangkatan guru swasta sering tanpa perjanjian tertulis yang memadai dan status guru yang tidak disamakan dengan pegawai atau buruh lainnya.

Menurut PP No.32 Tahun 1979, Seorang Diberhentikan Sebagai PNS

a.  Atas permintaan sendiri

b.  Mencapai batas usia pensiun (guru 60 Th)

c.  Adanya penyederhanaan organisasi

d. Melakukan pelanggaran tindak pidana/penyelewengan

e. Tidak cakap jasmani dan rohani

f.  Meninggalkan tugasnya

g. Meninggal dunia atau hilang dan karena hal lain.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.