RSS

Aplikasi Pencarian Luas dan Keliling Persegi Panjang

Untuk aplikasi pencarian Luas dan Keliling persegi panjang silahkan klik disini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2012 in Uncategorized

 

Tugas Powerpoint “Media Pembelajaran”

Berikut ini adalah powerpoint yang pernah saya dan teman-teman satu kelompok buat untuk tugas Media Pembelajaran. Masih banyak kekurangan, dan kami akan terus belajar untuk memperbaiki kekurangan itu. Bagi teman-teman yang menghendaki, silahkan klik disini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2012 in Uncategorized

 

Contoh LKS “Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers”

Berikut ini adalah contoh LKS yang pernah saya buat pada mata kuliah Telaah Kurikulum. Meskipun hanya berisi satu materi saja yaitu mengenai Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers, semoga dapat bermanfaat.

teman-teman pembaca bisa mendapatkannya dengan cara klik disini

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2012 in Uncategorized

 

Sejarah dipakainya “x” untuk mencari sesuatu yang Belum Diketahui

Ketika kita belajar tentang Matematika apalagi mengenai aljabar, persamaan linear, persamaan kuadrat, trigonometri, atau materi-materi Matematika yang lainnya, seringkali kita menemukan huruf x. Huruf x dalam Matematika sering atau bahkan selalu dipakai untuk menjadi tanda dari sesuatu yang akan dicari atau belum diketahui nilainya. Sempat terfikir dalam benak kita, kenapa harus memakai huruf x, kenapa tidak huruf-huruf lain seperti a, b, c, atau w mungkin? Kenapa harus x?

Bagi sebagian siswa yang sangat kritis, mereka sering menanyakan hal ini kepada guru mereka. Dan sebagian guru pun hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan senyuman dan mengatakan untuk lebih mudahnya saja dipakai huruf x. Namun tahukah teman-teman pembaca mengapa kita memakai huruf x untuk sesuatu yang sedang dicari nilainya dalam pelajaran eksak khususnya Matematika? Ternyata dipakainya huruf x sebagai penanda sesuatu yang belum diketahui nilainya itu ada sejarahnya.

Ceritanya begini, seorang matematikawan, astronom, filsuf, dan penyair asal Persia (sekarang Iran) yang bernama Umar Khayyam (18 Mei 1048 — 4 Desember 1131) adalah seseorang yang pertama kali menggagas simbol ini. Istilah yang digunakan oleh Omar Khayyam waktu itu adalah chay. Istilah ini menyebar ke mana-mana, termasuk ke Spanyol. Oleh orang Spanyol, istilah ini dituliskan menjadi xay hingga lama-kelamaan, karena dianggap kurang praktis, akhirnya hanya huruf depan yang digunakan yaitu (x), sampai sekarang.

Nah, begitulah ceritanya hingga sampai saat ini kita bisa memakai huruf x sebagai penanda sesuatu yang belum kita ketahui nilainya dan hendak kita cari. Semoga sedikit informasi ini bermanfaat bagi teman-teman, sehingga ketika kita mengajarkan aljabar pada siswa dan mereka bertanya seperti di atas, kita dapat menjawabnya. ^_^

Sumber: kawanpustaka.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Berikut ini contoh salah satu RPP yang saya gunakan waktu saya PPL di SMK Muhammadiyah 1 Surakarta,

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah                : SMK Muhammadiyah 1 Surakarta

Mata Pelajaran              : Matematika

Kelas / Semester           : X / 1

Alokasi Waktu                :  2 x pertemuan (6 x 30 menit)

Standar Kompetensi    : 13. Menerapkan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah

Kompetensi Dasar        :  1.3.2 Menerapkan konsep barisan dan deret aritmatika

Indikator                          :

1. Mendiskripsikan barisan dan deret   aritmatika berdasarkan ciri-cirinya.

2. Menentukan suku ke-n barisan aritmatika menggunakan  n rumus

3.  Menentukan jumlah n suku suatu deret aritmatika menggunakan n rumus.

A.     Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat mendiskripsikan barisan dan deret   aritmatika berdasarkan ciri- cirinya.

2. Siswa dapat menentukan suku ke-n barisan aritmatika menggunakan  n rumus

3. Siswa dapat  menentukan jumlah n suku suatu deret aritmatika menggunakan n rumus.

B.     Materi Pembelajaran

1. Barisan aritmatika

Barisan aritmetika adalah barisan bilangan yang selisih dua suku yang berurutan selalu mempunyai nilai yang tetap ( konstan ).

2.     Deret aritmatika

Deret aritmatika  adalah suatu deret yang merupakan penjumlahan berurut dari suku suku barisan aritmatika .

C.     Metode Pembelajaran

Ceramah, Tanya Jawab, pemberian tugas dengan kerja individu

D.    Langkah-langkah Pembelajaran

1.   Pertemuan Pertama

TAHAPAN

KEGIATAN GURU SISWA

PENDIDIKAN KARAKTER

WAKTU

KEGIATAN AWAL–      Berdoa-      Salam dan tegur sapa-      Mengecek kehadiran siswa

–      Prolog / apersepsi

–   Guru bersama siswa berdoa bersama sama-   Guru memberi salam-   Guru mengabsen siswa

–   Guru mengarahkan persepi siswa

–     Iman dan taqwa-    Santun dan peduli-    Empati

–    Kreatif, percaya diri

5      menit
KEGIATAN INTI–       Eksplorasi-      Elaborasi-      Konfirmasi –   Guru bersama siswa mengingat kembali mengenai pla ilangan dan deret-   Siswa menyampaikan informasi mengenai barisan aritmatika-   Guru menugasi siswa untuk menyimak materi yang akan dipelajari.

–   Guru menjelaskan sedikit tentang materi

–   Guru memberi contoh soal dan menjelaskan cara penyelesaian soal disertai sedikit Tanya jawab

–   Siswa mengkomunikasikan secara lisan mengenai barisan aritmatika

–   Guru memberikan soal latihan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa

–   Siswa diminta untuk menyelesaikan soal yang diberikan dan mempresentasikan di depan

–   guru bersama siswa mengevauasi hasil belajar siswa

–    Rasa ingin tahu-    Disiplin, tanggung jawab, perhatian-    Menghormati, perhatian rasa ingin tahu

–    Perhatian tertib, tanggung jawab

–    Perhatian,menghargai, rasa ingin tahu, disiplin

–    Percaya diri

–  kerja sama, tanggung jawab

– percaya diri, tanggung jawab

–    Perhatian, jujur

10 menit10 menit15  menit

10 menit

30  menit

PENUTUP –   Siswa bersama guru membuat kesimpulan-   Guru memberi tugas rumah –    Tanggung jawab 10 menit

 

2.    Pertemuan kedua

TAHAPAN

KEGIATAN GURU SISWA

PENDIDIKAN KARAKTER

WAKTU

KEGIATAN AWAL–  Berdoa-  Salam dan tegur sapa-  Mengecek kehadiran siswa

–  Prolog / apersepsi

–   Guru bersama siswa berdoa bersama sama-   Guru memberi salam-   Guru mengabsen siswa

–   Guru mengarahkan persepi siswa

–     Iman dan taqwa-    Santun dan peduli-    Empati

–    Kreatif, percaya diri

5      menit
KEGIATAN INTI–   Eksplorasi-  Elaborasi-  Konfirmasi –   Guru bersama siswa mengingat kembali mengenai  barisan aritmatika-   Siswa menyampaikan informasi mengenai deret aritmatika-   Guru menugasi siswa untuk menyimak materi yang akan dipelajari.

–   Guru menjelaskan sedikit tentang materi

–   Guru memberi contoh soal dan menjelaskan cara penyelesaian soal disertai sedikit Tanya jawab

–   Siswa mengkomunikasikan secara lisan mengenai barisan aritmatika

–   Guru memberikan soal latihan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa

–   Siswa diminta untuk menyelesaikan soal yang diberikan dan mempresentasikan di depan

–   guru bersama siswa mengevauasi hasil belajar siswa

–    Rasa ingin tahu-    Disiplin, tanggung jawab, perhatian-    Menghormati, perhatian rasa ingin tahu

–    Perhatian tertib, tanggung jawab

–    Perhatian,menghargai, rasa ingin tahu, disiplin

–    Percaya diri

–  kerja sama, tanggung jawab

– percaya diri, tanggung jawab

–    Perhatian, jujur

10 menit10 menit15  menit

10 menit

30  menit

PENUTUP –   Siswa bersama guru membuat kesimpulan-   Guru memberi tugas rumah –    Tanggung jawab 10 menit

E. Alat dan sumber Belajar

  • Sumber: 1. Buku Sekolah Elektronik (BSE) Matematika Kelas XI      Karangan To’ali

2. Buku Matematika Program Teknologi, Kesehatan, dan pertanian untuk SMK dan MAK Kelas XI Erlangga

  • Alat      :  LCD, papan tulis, spidol, penghapus

F.                  Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik Penilaian

Bentuk Instrumen

Instrumen/ Soal

  • Menentukan suku ke-n barisan aritmatika menggunakan  n rumus
  • Siswa dapat menentukan suku ke-n barisan aritmatika menggunakan  n rumus
  • Siswa dapat  menentukan jumlah n suku suatu deret aritmatika menggunakan n rumus.

 

 

 

 

 

Tes tertulis Tes uraian 1. a. Tentukan suku ke – 6 dari   barisan aritmetika 2 , 4 , 6 , 8 , …b. Tentukan suku ke-21 jika diketahui suku ke-5 dan suku ke-9 barisan aritmatika adalah 35 dan 43!2. a. Carilah jumlah 10 sukupertama dari  unsur-unsur

deret aritmatika berikut ini :

b.  Carilah jumlah dari deret 3 + 8    + 13 + … + 93

c.    Suatu Auditorium akan digunakan untuk seminar. Baris pertama memuat 30 kursi. Baris kedua memuat 36 kursi, dan seterusnya bertambah 6 kursi. Berapa jumlah kursi yang ada, jika dalam Auditorium tersebut terdapat 9 baris?


Ketentuan Penilaian :

Masing-masing point

1.      Siswa menjawab dengan cara yang benar dan jawaban benar skor maksimal 10

2.      Siswa menjawab dengan cara yang benar namun jawaban salah skor maksimal 8

3.      Siswa hanya menjawab dengan jawaban saja skor 5

4.      Siswa hanya menulis apa yang dikatahui dan yang ditanyakan skor 1

Nilai  Akhir    = 2 x Jumlah Skor

= 2 x 50

= 100

                                                                      Mengetahui,

Guru Pamong Matematika

SMK Muhammadiyah 1 Surakarta

(Erlina Farida, S.T.)

                NIP :

Surakarta, 13 September 2011

Praktikan,

( Tia Fifi Lestari )

NIM : A.410080217

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI USAHA “REBOISASI” MORAL BANGSA

Oleh: Tia Fifi Lestari

Pendidikan merupakan sarana yang berperan penting dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi. Hal ini bukan berarti berkualitas dan berpotensi hanya dalam bidang akademik saja namun juga dalam hal moral atau budi pekerti. Pendidikan di Indonesia  dilaksanakan dengan maksud untuk mencetak generasi muda yang berprestasi dan bermoral baik. Namun, permasalahan yang timbul adalah seringnya kita mendengar hal – hal yang kurang pantas justru dilakukan oleh beberapa pelajar di negeri ini. Fenomena mencontek, tawuran antar pelajar, serta kejadian – kejadian lain yang tidak mencerminkan perilaku seorang akademisi semakin hari malah semakin menjamur saja. Disamping itu, tingkat kesopanan seorang siswa terhadap gurunya atau seorang anak terhadap kedua orang tuanya juga semakin memprihatinkan.

Menurut beberapa data yang dihimpun Kompasiana (http://sosbud.kompasiana.com), tawuran pelajar tidak terjadi satu atau dua kali di Indonesia, melainkan sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Contohnya saja di Jakarta, tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Bimmas Polri Metro Jaya). Pada 2010, tawuran pelajar tercatat berjumlah 28 kasus, sedangkan pada periode Januari – Agustus 2011, tawuran pelajar di Jakarta sudah tercatat sebanyak 36 kasus, dengan wilayah paling banyak di Jakarta Pusat (tempo).

Motif dalam pelaksanaan tawuran pelajarpun juga beraneka ragam. Yang paling baru akhir-akhir ini adalah tawuran pelajar yang menewaskan seorang siswa STM Budut Jakarta pada 2 Desember 2011. Pelaku pengeroyokan dalam tawuran tersebut mengaku sebelum tawuran di lapangan mereka telah terlibat perang di jejaring sosial facebook. (http://www.indosiar.com)

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) yang melibatkan 1666 responden mencatat kasus seks bebas di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya melebihi angka 50%. Dan yang lebih mengejutkan adalah sekitar 97,05% remaja di Yogyakarta telah melakukan seks bebas (Asmani, 2011: 24).

Bukan hanya itu, kemunduran moral bangsa juga dapat dilihat dari moral para pemimpin bangsa ini yang masih jauh dari harapan. Tingginya tingkat korupsi di negeri ini mengisyaratkan bahwa negeri ini sudah kehilangan karakter pemimpin bangsa yang benar-benar dapat menjadi panutan.

Peristiwa – peristiwa yang tersebut diatas menunjukkan karakter generasi muda Indonesia sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan kurangnya figur yang dapat menjadi panutan bagi mereka. Menurut Hidayatullah (2010: 17), beberapa faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah: pertama, sistem pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter, tetapi lebih menekankan pengembangan intelektual, misalnya sistem evaluasi pendidikan menekankan aspek kognitif/akademik, seperti Ujian Nasional (UN). Kedua, kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.

Jika diibaratkan hutan, negeri ini sudah kehilangan pohon-pohon hijau yang berupa karakter dan moral yang baik sehingga perlu reboisasi karakter atau moral agar dapat hijau kembali. Reboisasi karakter ini bisa diimplementasikan melalui pendidikan karakter di sekolah.

 

Pendidikan di sekolah tidak lagi cukup hanya dengan mengajar peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian lulus ujian dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. (Hidayatullah, 2010).

Menurut Muslich (2011: 29) sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia – manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Sehingga, masih menurut Muslich, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 01 Tahun 2010 pada bagian prioritas 2 tentang Pendidikan yang berbunyi “Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa” sudah cukup mengindikasikan pentingnya pendidikan untuk membentuk karakter bangsa Indonesia. Sehingga Depdiknas menyelenggarakan rintisan program yang mengaplikasikan nilai – nilai karakter budaya bangsa melalui pendidikan karakter.

Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pendidikan yang baik bagi pertumbuhan karakter siswa. Segala peristiwa yang terjadi di dalam sekolah semuanya dapat diintegrasikan melalui pendidikan karakter. Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan sebuah usaha bersama dari seluruh warga sekolah untuk menciptakan sebuah kultur baru di sekolah, yaitu kultur pendidikan karakter. Secara langsung, lembaga pendidikan dapat menciptakan sebuah pendekatan pendidikan karakter melalui kurikulum, penegakan disiplin, manajemen kelas, maupun melalui program-program pendidikan yang dirancangnya (Aqib, 2011: 99).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pentingnya peran guru ini ditunjukkan  bahwa affektif guru akan mengurangi perilaku menyimpang siswa (Bryk & Driscoll, 1988), mengurangi penyalahgunaan narkoba (Battistich & Hom, 1997), meningkatkan tingkat kehadiran (Lapsley & Narvaez, 2006), dan meningkatkan prestasi akademik (Zins, Weissberg, Werg, & Walberg, 2004) (http://idrisharta.blogspot.com)  

Dengan demikian, pendidikan karakter diharapkan mampu memperbaiki karakter dan moral siswa sehingga dapat menghijaukan kembali moral bangsa yang sempat gundul dari hijaunya budi pekerti.

 

Sumber:

Aqib, Zainal. 2011. Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa. Bandung: Yrama Widya.

Kompasiana. 2011. Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia. http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/25/tawuran-adalah-realita-pelajar-indonesia.html. diakses tanggal  12 Desember 2011.

Haris, Abdul at. all. 2011. Tawuran Pelajar Direncanakan Melalui Jejaring Sosial Facebook. http://www.indosiar.com/patroli/direncanakan-melalui-jejaring-sosial-facebook_93005.html diakses tanggal 6 Desember 2011

Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press.

Hidayatullah, M. Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Harta, Idris. 2011. Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika SMP/ MTs. http://idrisharta.blogspot.com/2011/04/pendidikan-karakter-matematika-smp.html  . diakses tanggal 12 November 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

Perjalanan Kurikulum Nasional (pada Pendidikan Dasar dan Menengah) Hingga 2004

Sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, serta tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

Kurikulum 1968 dan sebelumnya

Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.

Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut.

  • Berorientasi pada tujuan
  • Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
  • Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
  • Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
  • Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

Kurikulum 1984

Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah
  • Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik
  • Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah
  • Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
  • Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
  • Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.

Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi, oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
  • Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
  • Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
  • Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
  • Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
  • Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.

Kurikulum 1994

Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut.

  • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
  • Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
  • Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
  • Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
  • Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
  • Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.

Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut.

  • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran
  • Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu

  • Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
  • Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
  • Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.

Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi Tahun 2002 dan 2004

Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata pelajaran matematika mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan. Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagai sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Kurikukum yang dikembangkan saat ini diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran. Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002a). Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut.

  1. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
  2. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten.
  3. Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.
  4. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.(Puskur, 2002a).

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya (Puskur, 2002a).

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu:

  • pemilihan kompetensi yang sesuai;
  • spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi;
  • pengembangan sistem pembelajaran.

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. (Puskur, 2002a).

Struktur kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam suatu mata pelajaran memuat rincian kompetensi (kemampuan) dasar mata pelajaran itu dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa. Mari kita lihat contohnya dalam mata pelajaran matematika, Kompetensi dasar matematika merupakan pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran matematika. (Puskur, 2002b). Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika merupakan gambaran kompetensi yang seharusnya dipahami, diketahui, dan dilakukan siswa sebagai hasil pembelajaran mata pelajaran matematika. Kompetensi dasar tersebut dirumuskan untuk mencapai keterampilan (kecakapan) matematika yang mencakup kemampuan penalaran, komunikasi, pemecahan masalah, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika.

Struktur kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit, yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa, juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. Misalkan, jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu, maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis, presentasi, atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya.

Sumber : http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized