RSS

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI USAHA “REBOISASI” MORAL BANGSA

08 Jan

Oleh: Tia Fifi Lestari

Pendidikan merupakan sarana yang berperan penting dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi. Hal ini bukan berarti berkualitas dan berpotensi hanya dalam bidang akademik saja namun juga dalam hal moral atau budi pekerti. Pendidikan di Indonesia  dilaksanakan dengan maksud untuk mencetak generasi muda yang berprestasi dan bermoral baik. Namun, permasalahan yang timbul adalah seringnya kita mendengar hal – hal yang kurang pantas justru dilakukan oleh beberapa pelajar di negeri ini. Fenomena mencontek, tawuran antar pelajar, serta kejadian – kejadian lain yang tidak mencerminkan perilaku seorang akademisi semakin hari malah semakin menjamur saja. Disamping itu, tingkat kesopanan seorang siswa terhadap gurunya atau seorang anak terhadap kedua orang tuanya juga semakin memprihatinkan.

Menurut beberapa data yang dihimpun Kompasiana (http://sosbud.kompasiana.com), tawuran pelajar tidak terjadi satu atau dua kali di Indonesia, melainkan sudah terjadi puluhan bahkan ratusan kali. Contohnya saja di Jakarta, tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Bimmas Polri Metro Jaya). Pada 2010, tawuran pelajar tercatat berjumlah 28 kasus, sedangkan pada periode Januari – Agustus 2011, tawuran pelajar di Jakarta sudah tercatat sebanyak 36 kasus, dengan wilayah paling banyak di Jakarta Pusat (tempo).

Motif dalam pelaksanaan tawuran pelajarpun juga beraneka ragam. Yang paling baru akhir-akhir ini adalah tawuran pelajar yang menewaskan seorang siswa STM Budut Jakarta pada 2 Desember 2011. Pelaku pengeroyokan dalam tawuran tersebut mengaku sebelum tawuran di lapangan mereka telah terlibat perang di jejaring sosial facebook. (http://www.indosiar.com)

Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) yang melibatkan 1666 responden mencatat kasus seks bebas di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya melebihi angka 50%. Dan yang lebih mengejutkan adalah sekitar 97,05% remaja di Yogyakarta telah melakukan seks bebas (Asmani, 2011: 24).

Bukan hanya itu, kemunduran moral bangsa juga dapat dilihat dari moral para pemimpin bangsa ini yang masih jauh dari harapan. Tingginya tingkat korupsi di negeri ini mengisyaratkan bahwa negeri ini sudah kehilangan karakter pemimpin bangsa yang benar-benar dapat menjadi panutan.

Peristiwa – peristiwa yang tersebut diatas menunjukkan karakter generasi muda Indonesia sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan kurangnya figur yang dapat menjadi panutan bagi mereka. Menurut Hidayatullah (2010: 17), beberapa faktor penyebab rendahnya pendidikan karakter adalah: pertama, sistem pendidikan yang kurang menekankan pembentukan karakter, tetapi lebih menekankan pengembangan intelektual, misalnya sistem evaluasi pendidikan menekankan aspek kognitif/akademik, seperti Ujian Nasional (UN). Kedua, kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.

Jika diibaratkan hutan, negeri ini sudah kehilangan pohon-pohon hijau yang berupa karakter dan moral yang baik sehingga perlu reboisasi karakter atau moral agar dapat hijau kembali. Reboisasi karakter ini bisa diimplementasikan melalui pendidikan karakter di sekolah.

 

Pendidikan di sekolah tidak lagi cukup hanya dengan mengajar peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian lulus ujian dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik peserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. (Hidayatullah, 2010).

Menurut Muslich (2011: 29) sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia – manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Sehingga, masih menurut Muslich, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 01 Tahun 2010 pada bagian prioritas 2 tentang Pendidikan yang berbunyi “Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa” sudah cukup mengindikasikan pentingnya pendidikan untuk membentuk karakter bangsa Indonesia. Sehingga Depdiknas menyelenggarakan rintisan program yang mengaplikasikan nilai – nilai karakter budaya bangsa melalui pendidikan karakter.

Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pendidikan yang baik bagi pertumbuhan karakter siswa. Segala peristiwa yang terjadi di dalam sekolah semuanya dapat diintegrasikan melalui pendidikan karakter. Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan sebuah usaha bersama dari seluruh warga sekolah untuk menciptakan sebuah kultur baru di sekolah, yaitu kultur pendidikan karakter. Secara langsung, lembaga pendidikan dapat menciptakan sebuah pendekatan pendidikan karakter melalui kurikulum, penegakan disiplin, manajemen kelas, maupun melalui program-program pendidikan yang dirancangnya (Aqib, 2011: 99).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pentingnya peran guru ini ditunjukkan  bahwa affektif guru akan mengurangi perilaku menyimpang siswa (Bryk & Driscoll, 1988), mengurangi penyalahgunaan narkoba (Battistich & Hom, 1997), meningkatkan tingkat kehadiran (Lapsley & Narvaez, 2006), dan meningkatkan prestasi akademik (Zins, Weissberg, Werg, & Walberg, 2004) (http://idrisharta.blogspot.com)  

Dengan demikian, pendidikan karakter diharapkan mampu memperbaiki karakter dan moral siswa sehingga dapat menghijaukan kembali moral bangsa yang sempat gundul dari hijaunya budi pekerti.

 

Sumber:

Aqib, Zainal. 2011. Pendidikan Karakter; Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa. Bandung: Yrama Widya.

Kompasiana. 2011. Tawuran adalah Realita Pelajar Indonesia. http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/25/tawuran-adalah-realita-pelajar-indonesia.html. diakses tanggal  12 Desember 2011.

Haris, Abdul at. all. 2011. Tawuran Pelajar Direncanakan Melalui Jejaring Sosial Facebook. http://www.indosiar.com/patroli/direncanakan-melalui-jejaring-sosial-facebook_93005.html diakses tanggal 6 Desember 2011

Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press.

Hidayatullah, M. Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Harta, Idris. 2011. Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika SMP/ MTs. http://idrisharta.blogspot.com/2011/04/pendidikan-karakter-matematika-smp.html  . diakses tanggal 12 November 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: